Teknologi Alutsista Militer

Informasi Seputar Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

CORSAR, SISTEM RUDAL ANTI TANK BARU UKRAINA

Published on: Monday, July 29, 2013 // , , ,


Ukraina telah berhasil menguji coba sistem rudal ringan anti-tank portabel baru "Corsar" di lapangan tembak dekat Kiev, 25 Juli 2013. Rencananya pengembangan Corsar akan rampung pada akhir 2013 ini, pengembang sistem rudal mengatakan.



Sistem rudal anti tank Corsar
Sistem rudal anti tank Corsar (Foto : Luch)

Menurut pengembang Corsar, Biro Desain Negara Luch Ukraina, Corsar memiliki jangkauan tembak hingga 2.500 meter - hampir dua kali lipat jauhnya dari sistem rudal ringan anti-tank portabel yang ada saat ini. Corsar dapat dioperasikan pada temperatur minus 40 derajat dan plus 60 derajat celcius, ujar perusahaan tersebut.

"Kami akan memasarkan sistem ini dan segera mengadakan kontrak pada 2014 jika pengembangan selesai pada akhir tahun ini," kata seorang juru bicara Luch kepada RIA Novosti.

Corsar ditujukan untuk menghancurkan target kendaraan lapis baja modern yang statis maupun bergerak, kendaraaan lapis baja monolitik termasuk (yang menggunakan) lapis baja reaktif (ERA), helikopter dan kendaraan udara tak berawak, dan benda-benda lainnya.

Peluncur dan rudal anti tank Corsar
Peluncur dan rudal anti tank Corsar (Foto : Luch)

Sistem rudal anti-tank ini akan dibanderol dengan harga sekitar US$ 130 ribu - yang menurut pengembang harga ini tiga kali lebih murah dari sistem anti-tank buatan barat yang ada saat ini.

Spesifikasi
Jangkauan
2500 meter
Waktu terbang (kecepatan maksimum)
10 detik
Hulu ledak
Tandem hollow-charge
Kaliber105 mm
Panjang peluncur
1,16 meter
Diameter
0,112 meter
Bobot
18 kg
Temperatur pengoperasianMinus 40 - Plus 60 derajat celcius

Amerika Butuh Pesawat Pembom Strategis Baru

Published on: // , ,


B-52 Stratofortresses
Pembom tua AS B-52 Stratofortresses.
Amerika Serikat sadar bahwa kekuatan pesawat pembomnya sudah sulit menghadapi ancaman saat ini yang seolah tanpa batas. Seperti halnya negara China yang terus meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya secara signifikan, China akan menjadi musuh potensial bagi AS. Tentu saja AS harus segera memodernisasi armada pembomnya yang saat ini terbilang sudah uzur. Bila hal ini gagal, maka akan mengakibatkan kemunduran besar bagi AS, karena musuh di masa depan pasti akan mulai menyerang titik-titik terlemah dari AS. 

Bom memang telah memainkan peran penting dalam konflik-konflik terdahulu. Dari Balkan ke Afghanistan ke Irak hingga ke Libya, armada pesawat pembom AS yang diterbangkan dari jarak jauh telah terbukti sangat efektif mengalahkan musuh yang beragam. 

Yang diinginkan AS adalah pembom kelas berat yang unik, multifungsi dan hemat biaya perawatan. Definisi dari pembom kelas berat adalah jangkauannya yang jauh dan muatannya yang banyak. Fitur-fitur semacam ini memungkinkan bagi pesawat pembom untuk beradaptasi dengan situasi ancaman, yang mana hal ini tidak bisa dilakukan oleh pesawat taktis kecil berawak dan tidak berawak. Sebagai contoh, pembom B-52 AS yang memuai debutnya sebagai pesawat pembom nuklir high-flying, tapi kemudian pembom B-52 berubah menjadi penetrator level rendah, menjadi pembom konvensional dan akhirnya menjadi pesawat serbaguna yang bisa meluncurkan rudal jelajah.
 

Pesawat pembom berat terbaru AS saat ini merupakan hasil rancangan lebih dari 30 tahun lalu. Armada pembom AS memang masih kuat, namun sudah cukup tua. Armada pembom AS terdiri dari 76 unit B-52 Stratofortresses rata-rata 50 tahun, 63 B-1 Lancers rata-rata 28 tahun, dan 20 B-2 Spirit rata-rata 20 tahun. Setiap pembom rata-rata bisa terbang sejauh 6.000 mil atau lebih. Khusus B-52, pesawat ini menjadi solusi kebuntuan AS untuk penggunaan rudal jelajah, B-1 adalah satu-satunya pembom yang berkecepatan supersonik, dan B-2 adalah satu-satunya pembom siluman AS. Ketiga jenis pembom AS tersebut saat ini mengalami masalah yang sama yaitu usia.
 

Dunia sudah berubah, Uni Soviet telah pecah dan China telah bangkit. Teknologi lama senjata pemusnah massal telah menyebar ke negara-negara yang sebelumnya belum pernah memiliki teknologi ini. Singkatnya, hampir semua ancaman terhadap AS telah berubah sejak terakhir kali AS mengembangkan pesawat pembom baru. Pada saatnya, tidak lagi terbilang layak bagi AS untuk tetap menggunakan sistem tempur lama untuk menghadapi ancaman saat ini.
 

Meskipun ancaman terhadap AS semakin meningkat di era baru ini, namun AS masih mendominasi udara dunia. Musuh "kecil" seperti Taliban hampir tidak memilki alutsista yang mumpuni untuk menghadapi pasukan AS di udara, di laut atau bahkan dalam pertempuran konvensional di darat, tentu saja. Armada pembom tua dan pesawat taktis AS selama ini memang dianggap masih bisa beradaptasi dengan tuntutan perang jenis baru. Karena alasan inilah perencana militer AS kuat ditekankan pemerintahnya (hanya) untuk mengupgrade sistem tempur darat mereka saja ketimbang mengupgrade pembom-pembom ini.
 

Pembom siluman AS B-2 Spirit
Pembom siluman AS B-2 Spirit
Upaya untuk mendapatkan pesawat pembom baru juga berulang kali tertunda. Ketika Perang Dingin berakhir, Departemen Pertahanan AS menghentikan produksi B-2 dan menghentikan pengembangan pembom baru, ini untuk pertama kalinya sejak tahun 1920-an. Rencana untuk membuat pembom baru juga tertunda karena "melemahnya" ancaman terhadap AS dan munculnya teknologi baru yang bisa menambah usia pakai pesawat pembom. Akhirnya, AS tidak mengembangkan pembom kelas berat baru dalam tiga dekade terakhir. 

Saat ini Angkatan Udara AS (USAF) sudah memiliki rencana untuk mengembangkan pesawat pembom baru. USAF sudah menganggarkan US$ 6 miliar untuk pengembangan Long Range Strike Bomber (LRS-B) untuk 2013 hingga 2017. Bila berhasil, setidaknya USAF akan membeli 80-100 pembom ini dengan harga rata-rata per unit US $ 550 juta, dengan rencana operasional pertama pada tahun 2025. Meskipun rincian pesawat pembom ini masih dirahasiakan, para analis memprediksi pembom baru AS ini akan dapat beroperasi secara otonom di wilayah udara musuh, membawa berbagai bom ke seluruh dunia.
 

Kemampuan serangnya juga akan ditingkatkan layaknya pengembangan sebuah senjata baru. Setidaknya ini akan memakan waktu 20 tahun mulai dari pengembangan, produksi hingga penyebaran dari LRS-B. Tidak hanya mengembangkan pembom yang memiliki persenjataan dan jangkauan yang lebih dari pembom-pembom sebelumnya, namun AS menginginkan pembom yang awet seperti yang tahan terhadap korosi logam.
 

Selama masa penantian ini, USAF tentu saja masih harus mempertahankan pesawat-pesawat pembom tuanya untuk menjalankan semua misinya. Berhasil atau tidak pengembangan ini, waktu yang akan menjawabnya. Karena bila gagal maka akan berakibat fatal bagi AS.
Sumber : Artileri

Piaggio Aero Unveils Hammerhead P-11HH Unmanned MALE Aircraft

Published on: // , ,


hammerhead
Piaggio Aero claims its new drone will offer an unmatched combination of range, wide operative speeds, fast climb gradient, high operational ceiling and the capability to carry a variety of payloads, providing end users with a powerful yet flexible defense system that outperforms other MALE Systems.

Piaggio Aero Industries unveiled at the 2013 Paris Air Show today, the Piaggio Aero P.1HH “HammerHead”- Unmanned Aerial System (UAS). The P.1HH HammerHead technological demonstrator was designed and built in less than one year and it has already successfully completed low speed taxi tests. Defense-Update reports.
Piaggio Aero claims its new drone will offer an unmatched combination of range, wide operative speeds, fast climb gradient, high operational ceiling and the capability to carry a variety of payloads, providing end users with a powerful yet flexible defense system that outperforms other MALE Systems.
The unmanned variant is longer tan the Avanti II and is using a modified airframe, longer wings with high aspect ratio, and various installations of mission payloads, satellite links and line-of-site payloads. The Hammerhead is bound to become the largest UAS in Europe.
The design of the P.1HH HammerHead aims to be a unique ISR platform, able to climb up to 45.000 feet, loitering quietly at low speed (135 KTAS) with an endurance of up to 16 flight hours and capable of deploying at very high speed – up to 395 KTAS – to targets. Its capabilities include being able to host several payload combinations and to perform multiple missions: aerial, land, coastal, maritime and offshore security, COMINT/ELINT, electronic warfare as well as other roles.
A larger version is available to members
Selex ES was assigned the responsibility for the P.1HH’s Mission System, delivering effective and flexible scenario planning, simulation and concepts of operations (CONOPS). Selex ES also provides the datalink and ground control system.
The drone will support 16 hours mission on station, with a payload weight of 500 lbs. with less fuel, the aircraft will be able to carry 200 pound payloads and fly up to a ceiling of 45,000 ft. The aircraft is developed in partnership between Avatnti and Selex ES was first announced during the IDEX 2013 show in Au Dhabi this year. Since then the first aircraft has performed taxi tests, in preparation for flight testing.
piaggio_hammerhead

Bom Atom

Published on: // , , ,


Pasti anda mengetahui sejarah pengeboman kota Hiroshima dan nagasaki yang telah menghancurkan kedua kota tersebut dan telah membunuh banyak nyawa hanya dengan menjatuhkan bom atom. Disini saya bukan akan membahas mengenai pengeboman tersebut, tetapi saya akan memberikan informasi mengenai sejarah penemuan bom atom yang digunakan dalam pengeboman kota tersebut. Sejarah untuk menghasilkan tenaga bom atom ternyata sangat panjang. Berikut adalah beberapa informasi penting mengenai bom atom.
Pada tahun 1902, Marie dan Pierre Curie mengisolasi logam radioaktif disebut radium

Pada tahun 1905, Albert Einstein merumuskan dalam teori Teori Relativitas Khusus. Menurut teori ini, massa dapat dianggap sebagai bentuk lain dari energi. Menurut Einstein, jika entah bagaimana kita bisa mengubah massa menjadi energi, akan mungkin untuk “membebaskan” sejumlah besar energi. Selama dekade berikutnya, langkah besar diambil oleh Ernest Rutherford dan Niels Bohr menjelaskan struktur Bom Atom yang lebih tepat. Mereka mengatakan, dari inti bermuatan positif, dan elektron bermuatan negatif yang berputar di sekitar inti. Itu adalah inti, para ilmuwan menyimpulkan, bahwa harus dipecah atau “meledak” jika Bom Atom akan dirilis.

 [Image: Bom-Atom-300x168.jpg]

Pada tahun 1934, Enrico Fermi Italia menghancurkan atom berat dengan menyemprotkannya pada neutron. Namun dia tidak menyadari bahwa ia telah memperoleh fisi nuklir.

Pada Desember 1938, meskipun, Otto Hahn dan Fritz Strassman di Berlin melakukan eksperimen serupa dengan uranium dan menjadi prestasi dunia. Mereka telah menghasilkan fisi nuklir, mereka telah memisahkan atom yaitu 33 tahun setelah Einstein mengatakan hal itu bisa dilakukan bahwa massa berubah menjadi energi.
Pada tanggal 2 Agustus 1939, Albert Einstein menulis surat kepada Presiden

Pada tanggal 2 Agustus 1939, Albert Einstein menulis surat kepada Presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt. Selama empat bulan terakhir, ia telah membuat kemungkinan melalui karya Joliot di Perancis serta Fermi dan Szilard di Amerika yang memungkinkan mengatur reaksi nuklir dalam sebuah massa besar uranium.. Dan ini fenomena baru juga yang akan mengarah pada pembangunan Bom Atom. Sebuah Bom Atom tunggal dari jenis ini, dilakukan dengan perahu atau meledak di sebuah port, mungkin sangat baik menghancurkan seluruh pelabuhan bersama-sama dengan beberapa daerah sekitarnya. Dia mendesak Roosevelt untuk memulai program nuklir tanpa keterlambatan.Dalam 1 tahun kemudian Einstein menyesalkan peran dia bermain dalam pengembangan senjata destruktif seperti itu: “Aku melakukan satu kesalahan besar dalam hidup saya,” katanya kepada Linus Pauling, ilmuwan terkemuka lain, “ketika saya menandatangani surat kepada Presiden Roosevelt merekomendasikan bahwa bom atom dibuat”.


Pada Desember 1942 di University of Chicago, ahli fisika Italia Enrico Fermi berhasil menghasilkan reaksi berantai nuklir pertama. Hal ini dilakukan dengan pengaturan uranium alam gumpalan didistribusikan dalam setumpuk besar grafit murni, suatu bentuk karbonnya. Dalam reaktor nuklir, moderator grafit berfungsi untuk memperlambat neutron.

Pada Agustus 1942, selama Perang Dunia II, Amerika Serikat mendirikan Proyek Manhattan.Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembangkan, membangun, dan menguji Bom Atom. Banyak ilmuwan Amerika terkemuka, termasuk fisikawan Enrico Fermi dan J. Robert Oppenheimer dan kimia Harold Urey, yang terkait dengan proyek, yang dipimpin oleh seorang insinyur Angkatan Darat AS, Brigadir Jenderal Leslie R. Groves.
 
Pada tanggal 31 Mei 1945, enam belas orang bertemu di kantor Menteri Perang Henry L. Stimson. Enam belas orang ini ada di sana untuk membuat keputusan tentang senjata Amerika rata-rata belum pernah mendengar, bom atom. Mereka memilih target masa depan untuk “The Bomb.” Apa yang mereka bicarakan adalah “hubungan baru manusia dengan alam semesta,” seperti dikatakan oleh Stimson. Sekretaris tampaknya mengatakan, berada di titik balik yang paling kritis dalam seluruh sejarah yang dicatat.

Pada tanggal 16 Juli 1945, bom atom pertama atau A-bom, diuji di Alamogordo, New Mexico.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Enola Gay, pesawat Amerika, menjatuhkan bom atom pertama yang pernah digunakan dalam peperangan di Hiroshima, Jepang, akhirnya menewaskan lebih dari 140.000 orang. Pada tanggal 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom kedua, kali ini di kota Jepang Nagasaki. Walaupun meleset satu mil dari sasaran, tapi membunuh 75.000 orang.

Pada tanggal 29 Agustus 1949, Uni Soviet menguji bom atom pertama.

Pada tanggal 1 November, 1952 percobaan, skala penuh berhasil dilakukan oleh Amerika Serikat dengan perangkat fusi-jenis.

Pada tahun 1946, Komisi Energi Atom (AEC), lembaga sipil dari pemerintah Amerika Serikat, mendirikan UU Energi Atom untuk mengelola dan mengatur produksi dan penggunaan tenaga atom. Di antara program-program utama dari komisi baru ini adalah:
•Produksi bahan fisik bom atom
•Pencegahan kecelakaan
•Penelitian biologi, kesehatan, metalurgi dan produksi tenaga listrik dari atom, studi dalam produksi pesawat nuklir
•Deklasifikasi data pada energi atom.

Begitu hebatnya tenaga yang dapat dihasilkan oleh bom atom, jika dilihat dari sejarahnya bom atom digunakan sebagai senjata ampuh dalam peperangan, tetapi nuklir juga mememiliki sisi positif sebagai contoh sebagai pembangkit listrik, ilmu kedokteran, dll.

Perjuangan Berliku Menbangun Pesawat Tempur

Published on: //



Pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) T-50 KAI Golden Eagle Korea Selatan (photo: globalsecurity.org)



Pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) T-50 KAI Golden Eagle Korea Selatan 




Ajakan Korea Selatan untuk terlibat dalam program pesawat tempur KFX / IFX, adalah anugerah yang besar bagi Indonesia, sekaligus tantangan kecerdasan bagi Indonesia untuk bisa masuk ke industri penerbangan advance, jet super sonic. Korea Selatan telah merintis jet tempur itu jauh-jauh hari sebelumnya sejak tahun 1990-an dengan nama jet supersonic T-50. Dan kini mereka berada di persimpangan jalan, apakah akan melanjutkan jet tempur KFX yang telah lama mereka rintis, atau hanya memodifikasi F-15 yang ditawarkan Amerika Serikat menjadi F-15 SE (silent eagle).





T-50 Golden Eagle trainer version


 

Setelah bergelut dengan konsep, disain, prototype dan ujicoba yang melelahkan selama 10 tahun lebih, jet T 50 akhirnya diterbangkan pada tahun 2002 dan bergabung dengan Republik Korea Air Force (RoKAF) pada tahun 2005. T-50 dirancang sebagai pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) pengganti pesawat latih T-38 dan A-37, bagi calon pilot pesawat KF-16 (F-16 versi Korea Selatan) dan F-15 SE.





Disain dasar T-50 Golden Eagle berasal dari F-16 Fighting Falcon. Keduanya memiliki banyak kesamaan, antara lain: penggunaan mesin tunggal, kecepatan, ukuran, serta berbagai senjata dan elektronik. Korea Selatan menggarap T-50 setelah KAI memiliki pengalaman memproduksi lisensi KF-16. Pesawat lisensi KF-16 merupakan titik awal pengembangan T-50. Sebelumnya Korea juga telah membuat pesawat baling-baling turboprop KT-1 (Korean Trainer 1) Wongbee, sebagai pesawat latih dasar yang dihasilkan Daewoo Aerospace (sekarang bagian dari KAI).





Program pesawat latih supersonic T-50 pertama kali dimunculkan tahun 1992 dengan nama KTX-2. Departemen Keuangan dan Ekonomi Korsel sempat menangguhkannya hingga tahun 1995 dengan alasan kendala keuangan. Dengan berbagai kendala yang dialami, rancangan dasar pesawat T-50 akhirnya terwujud 4 tahun kemudian, pada tahun 1999. Proyek ini didanai Pemerintah Korea Selatan 70 persen, Korea Aerospace Industries (KAI) 17 persen dan Lockheed Martin 13 persen. Pada bulan Desember tahun 2003 Angkatan Udara Korea Selatan melakukan kontrak produksi sebanyak 25 pesawat T-50, dengan jadwal pengiriman antara 2005 dan 2009. Pesawat T-50 dilengkapi dengan radar AN/PG-67 dari Lockheed Martin.





Pesawat TA-50 light attack version


 
Program pesawat jet latih T-50 terus dikembangkan menjadi pesawat tempur ringan TA-50. Pesawat TA-50 adalah versi bersenjata dari pesawat latih T-50 yang ditujukan untuk memimpin pelatihan tempur serta serangan kilat. TA-50 memiliki platform: tempur penuh untuk bom presisi, rudal udara ke udara, serta rudal udara ke darat. TA-50 juga ditingkatkan kemampuannya dengan peralatan tambahan untuk: pengintaian, penargetan serta peperangan elektronik. Pada tahun 2011, skuadron pertama TA-50 varian serang ringan mulai operasional.


Pesawat TA-50 light attack version (photo: militaryphotos.net)
Pesawat TA-50 light attack version




Pesawat FA-50 multi-role fighter version


 
Varian lain dari T-50 adalah FA-50 yang memiliki kemampuan pengintaian dan peperangan elektronik. Varian FA-50 terbang perdana tahun 2011 dengan kemampuan multiperan yang disejajarkan dengan KF-16 (F-16 versi Korea). Korea Selatan memproduksi 60 pesawat FA-50 pada tahun 2013 hingga tahun 2016. Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) berencana memiliki total 150 Fighter FA-50 untuk menggantikan F-4 Phantom II dan F-5.


Pesawat FA-50 multi-role fighter  (photo: AFP)
Pesawat FA-50 multi-role fighter



FA-50_2



F-50 Cooming Soon


 
Setelah berhasil membuat multi-role fighter, hendak mengembangkannya lagi menjadi lebih canggih yakni F-50 dengan sayap yang diperkuat, radar AESA, bahan bakar internal lebih banyak, peningkatan kemampuan peperangan elektronik, serta mesin yang lebih kuat. Sayap yang diperkuat diperlukan untuk mendukung tiga launcher senjata di bagian bawah sayap. Radar AESA diharapkan memiliki kesamaan 90% dengan radar AESA program upgrade radar AESA KF-16. Pesawat T-50 diubah ke konfigurasi kursi tunggal agar ada ruang menampung bahan bakar internal yang lebih banyak. Selain meningkatkan peralatan perang elektronik, daya dorong mesin juga ditingkatkan, 12-25% lebih tinggi dari daya dorong mesin FA-50.





Dengan demikian, evolusi dari pesawat supersonic Korea Sealtan adalah: T-50 Golden Eagle trainer version, TA-50 light attack version, serta yang terbaru FA-50 light multi-role fighter version. Adapun program terbaru mereka adalah F-50, yang kemudian disebut KAI KF-X dan menjadi KFX / IFX setelah Indonesia menyertakan siap mengucurkan modal 20 persen dari biaya produksi pesawat.





Indonesia – Korea Selatan 


 
Sebelum mengajak Indonesia bekerjasama membuat KFX/IFX, jalinan Indonesia dan Korea Selatan telah dibangun dengan



pembelian 16 pesawat TA-50 varian serang dengan nilai kontrak 400 juta USD, pada bulan Mei 2011. Pesawat TA 50 ini akan dikirim ke Indonesia pada tahun 2013, untuk menggantikan pesawat BAE Hawk dan A-4 Skyhawk yang telah usang. Pada tahun 2008, TNI AU juga memiliki 17 pesawat latih baling-baling turboprop KT-1Bs Korea Selatan. Hal yang sama dilakukan Korea Selatan dengan membeli sejumlah CN 235 dari PT DI.





Disain KFX Korea Selatan
Disain KFX Korea Selatan





Disain Jet Tempur KFX / IFX
Disain Jet Tempur KFX / IFX




Angin Perubahan
 


Terpilihnya Presiden Korea Selatan yang baru Park Geun-hye, pada 25 Februari 2013 tiba- tiba saja membawa perubahan. Korea Selatan memutuskan untuk menunda pembangunan pesawat jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX, dengan alasan belum menguasai beberapa modul KFX. Di saat yang sama Korea Selatan akhirnya memutuskan untuk membeli F-15 SE dari Amerika Serikat, sebagai armada tempur yang baru. Alasan yang disampaikan, Korea Selatan tidak bisa bergantung dengan proyek KFX/IFX di tengah ketegangan yang terus meningkat dengan Korea Utara.





Apakah Korea menunda pembangunan KFX/ IFX karena alasan belum menguasai beberapa teknologi atau akibat tekanan politik ?. Ketika Korea Selatan membangun jet latih T-50 tidak terlihat ada rintangan. Namun saat mereka memutuskan masuk kepembuatan pesawat tempur sesungguhnya KFX/IFX, rintangan itu datang dan Korea Selatan menunda proyek KFX.





Hal yang mirip terjadi dengan Indonesia. Ketika Indonesia membangun pesawat kecil CN 235 dengan CASA Spanyol, tidak ada rintangan dan berjalan mulus. Akan tetapi ketika Indonesia masuk ke pesawat dengan kapasita lebih besar N-250, rintangan datang dan hingga kini N-250 tidak pernah diproduksi massal. Konon katanya akibat tekanan asing.





Apakah yang terjadi dengan Korea Selatan dan Indonesia, hanya kebetulan, alasan teknis atau betul akibat tekanan asing ?. Tidak tahu. Tapi mari kita coba apa yang terjadi dengan Jepang.





Pesawat Tempur Jepang


 
Pada tahun 1985, ketika ekonomi Jepang sedang berkembang pesat, negara itu berencana membuat jet tempur kelas satu, untuk menggantikan Jet Tempur Mitsubishi F-1 generasi 3 yang akan pensiun di pertengahan tahun 1990-an. Para insinyur Jepang pun telah melakukan riset dan jet tempur baru itu akan diberinama Fighter FS-X.





Disain Fighter FSX yang ingin dibangun Jepang tahun 1985
Disain Fighter FSX yang ingin dibangun Jepang tahun 1985




XF-2



The original Japanese multirole fighter strike project, The FS-X
The original Japanese multirole fighter strike project, The FS-X




Mitsubishi original FS-X
Mitsubishi original FS-X




Atas tekanan Amerika Serikat, Jepang diminta membatalkan niatnya membangun Jet Tempur FS-X, dengan alasan teknologi Jepang belum mampu membuat pesawat tempur generasi 4. AS berupaya mengecilkan hati Jepang serta membujuknya untuk bergabung mengembangkan dan memodifikasi pesawat tempur yang telah dimiliki Amerika Serikat.





Setelah melakukan negosiasi yang sulit bertahun-tahun, Jepang akhirnya setuju mengembangkan modifikasi pesawat F-16 Lockheed Martin dan dimulai tahun 1989. Pesawat itu disebut F-2.





Tiba-tiba saja di tengah jalan. pembangunan F 2 ini mendapatkan kritikan dari Kongres Amerika Serikat. Pembangunan jet tempur itu dianggap gerbang bagi Jepang untuk mendapatkan teknologi mutakhir, yang merupakan rival AS dalam hal ekonomi. Tekanan dari dalam negeri membuat Presiden George Bush terpaksa menunda kesepakatan. Lima tahun sejak kerjasama ditandatangani, proyek itu tidak juga terlaksana. Jepang pun marah dan frustasi: membuat pesawat sendiri tidak boleh, mengembangkan F-16 dihalang-halangi.





AS akhirnya mengirim tim ke Jepang untuk mengetahui sejauh apa kemampuan teknologi dirgantara dari negara Jepang, sehingga kerjasama nanti tidak satu arah, dalam artian hanya AS yang melakukan transfer teknologi bagi Jepang. Setelah melakukan inspeksi, tim ini menyimpulkan, teknologi Jepang masih tertinggal jauh dan tidak ada keuntungan teknologi yang bisa diterapkan AS untuk pesawat tempur modern mereka.





Amerika Serikat akhirnya menekan pemerintah Jepang untuk menerima bentuk kerjasama pembangunan pesawat F-16C dengan modifikasi minimal yang sebenarnya ditolak oleh R & D militer Jepang. AS memutuskan untuk membatasi transfer teknologi kepada Jepang. AS pun mulai bergeser dan memanfaatkan kerjasama ini untuk komersialisasi keuntungan mereka dengan memasok teknologi kelas dua.





Jepang menganggap transfer teknologi yang diberikan AS, masih kalah jauh dengan konsep konsep fighter FS-X yang akan mereka bangun. Di tengah rasa frustasinya Jepang terus melanjutkan program pesawat tempur F-2 dengan berbagai perubahan yang mereka inginkan. Jepang membuat sendiri software komputer untuk flight control F-2. Jepang juga membuat disain unik untuk sayap pesawat tempur tersebut. Disain sayap yang unik ini mencuri perhatian AS dan memintanya, namun Jepang tidak memberikan teknologinya. Hal ini akibat AS juga tidak memberikan data dari pesawat F-16 C.





Jepang akhirnya bisa mengontrol seluruh pembangunan F-2 disaat AS melangkah setengah hati. Tekanan tekanan politik yang diberikan AS justru membuat insinur Jepang melakukan berbagai modifikasi pada pesawat FS-X dan menemukan aplikasi teknologi baru. Antara lain teknologi pembuatan sayap pesawat tempur dari material komposite, menggantikan aluminium. Dengan teknologi ini sayap pesawat F-2 lebih ringan, namun kokoh dan kuat. Jepang juga menemukan teknologi fire control radar dan sejumlah sistem avionik modern.





Setelah berpolemik dan bergulat dengan teknologi selama 11 tahun, F-2 akhirnya diproduksi pada tahun 1996 dan terbang pertama kali tahun 2000. Pesawat ini dibuat oleh Mitsubishi Heavy Industries sebagai kontraktor utama bekerjasama dengan sub-kontraktor: Lockheed Martin Tactical Aircraft Systems, Kawasaki Heavy Industries dan Fuji Heavy Industries.





Pada awalnya Jepang memesan 130 pesawat F-2. Pesawat itu akan dibuat hingga tahun 2011. Namun pada tahun 2004 Jepang memutuskan untuk tidak melanjutkan pembelian peswat F-2 karena dinilai terlalu mahal. Produksi F-2 akhirnya terhenti pada pembuatan airframe ke 76. Amerika Serikat akhirnya ikut merugi, karena pesawat F-2 tidak jadi dibuat sebanyak 130 unit. Sementara fighter FS-X yang didisain Jepang akhirnya tidak terwujud.





Jepang memiliki pengalaman pahit dengan Amerika Serikat, namun proyek itu mengantarkan Jepang untuk menguasai teknologi baru pesawat tempur, antara lain dengan meng-upgrade teknologi ketinggalan jaman yang dikomersilkan oleh AS. Proyek F-2 yang memakan biaya sangat besar mengantarkan Jepang ke teknologi pesawat tempur advance.





F-2 Jepang, modifikasi F-16 AS (photo: JSDF)
F-2 Jepang, modifikasi F-16 AS




Mitsubishi F-2 Jepang (photo: globalsecurity.org)
Mitsubishi F-2 Jepang




Mitsubishi F 2A
Mitsubishi F 2A




Pesawat Counterstealth Jepang


 
Kini. di saat negara-negara maju masih dalam tahap awal produksi pesawat tempur generasi kelima, Jepang justru telah mempersiapkan konsep dan desain pesawat tempur generasi keenam dengan kemampuan anti pesawat siluman / counterstealth.



Menurut Jane’s Defence, pesawat tempur generasi ke-6 ini akan dibangun berdasarkan pesawat konsep ATD-X (Advanced Technology Demonstrator-X) generasi ke lima Jepang. Pesawat ATD-X sendiri dijadwalkan terbang perdana tahun 2014 -2016 nanti dan telah dikerjakan sejak tahun 2007. Jepang tidak akan memproduksi banyak pesawat generasi kelima ATD-X, melainkan hanya hanya akan digunakan untuk meriset berbagai teknologi yang lebih maju dan integrasi sistem, sebagai dasar untuk memproduksi pesawat tempur generasi keenam.





Mitsubishi ATD-X Shinsin Jepang
Mitsubishi ATD-X Shinsin Jepang




Fighter ATD-X Generasi 5 Jepang
Fighter ATD-X Generasi 5 Jepang




Mockup Fighter Mitsubishi ATDX
Mockup Fighter Mitsubishi ATDX




Disain Pengembangan Fighter ATD-X
Disain Pengembangan Fighter ATD-X




Rencana penggelaran pesawat tempur generasi kelima berteknologi stealth Chengdu J-20 oleh China dan Sukhoi PAK-FA T-50 oleh Rusia membuat Jepang memandang proyek pengembangan pesawat tempur masa depan ini sangat mendesak. ”China dan Rusia masing-masing akan menggelar Chengdu J-20 dan Sukhoi PAK-FA T-50 dalam waktu dekat. Kami tahu 28 radar kami efektif mendeteksi pesawat generasi ketiga dan keempat dari jarak jauh, tetapi dengan munculnya pesawat-pesawat generasi kelima ini, kami tak yakin bagaimana kinerja radar-radar itu nantinya,” ujar Letnan Jenderal Hideyuki Yoshioka, Direktur Pengembangan Sistem Udara Institut Pengembangan dan Riset Teknis Kemhan Jepang.





Dalam konsep Jepang, pesawat tempur generasi keenam akan memiliki kemampuan i3 (informed, intelligent, instantaneous) dan memiliki karakteristik counterstealth. Pesawat generasi keenam inilah yang digadang-gadang akan menggantikan armada F-2, pesawat tempur yang diproduksi berdasar platform F-16 buatan AS.





Meski tidak mengalami hambatan teknologi, Jepang diperkirakan menghadapi rintangan politik dari AS yang selama ini keberatan jika Jepang mengembangkan pesawat tempur sendiri. Salah satu alternatif yang akan ditempuh Jepang adalah mengajak AS mengembangkan bersama pesawat tempur generasi keenam ini. Sebuah situasi yang menjadi berbalik, ketika dulu tahun 1985, AS mengajak Jepang memodifikasi F-16.





Dengan kasus Jet Tempur Korea Selatan dan Jepang tersebut, kira-kira seperti apa cerita pembangunan jet tempur KFX/IFX Indonesia nanti ?.  Indonesia harus cerdik dan bermental baja. 






















Sumber : JKGR

V600-COMMANDO

Published on: // , , ,




V600-Commando
V600 Commando dikembangkan oleh perusahaan swasta Gage Cadillac pada awal tahun 1980.Kendaraan ini adalah kendaraan dukungan tempur yang disebut juga sebagai V300A1 atau LAV600 yang diperkenalkan pada awal tahun 1983.Kendaraan ini merupakan varian terkuat dari berbagai kendaraan lapis baja komando.

V600 menawarkan kemampuan daya tembak sama dengan kekuatan MBT namun ia begitu simpel dan biaya yang rendah untuk sebuah kendaraan lapis baja.Selain itu juga konfigurasi roda dan kecepatan jalan jauh lebih tinggi.V600 ditujukan untuk pelanggan ekspor namun tidak ada order produksi.

Turet dan kanon V600 mirip dengan Tank ringan stingray yang juga dikembangkan oleh perusahaan yang sama.Kendaraan ini dirancang khusus untuk menyerap recoil senjata berat.
Commando V600 dipersenjatai dengan fully-stabilized 105-mm Low Recoil Force rifled gun yang diperoleh berdasarkan bentuk L7A3 Inggris.Secara kinerja identik dengan yang digunakan MBT Abrams M1 yang dapat memecat berbagai jenis amunisi standar NATO.


Pada saat percobaan V600 dapat mengalahkan MBT ternama.Ia menggunakan loading gun secara manual,ia memuat delapan round yang siap untuk digunakan dan disimpan pada turet.sementara amunisi lainnya tersiman dalam hul atau lambung.

Kendaraan ini dilengkapi sistem kontrol tembak Marconi.Hal ini dapat menembak target bergerak dan dalam keadaan onboard.

Persenjataan sekunder terdiri dari senapan mesin yang terpasang koaksial 7,62 mm dan senapan mesin atap 12,7 mm.


Untuk perlindungan,pada bagian busur depan dapat tahan terhadap proyektil 14,5 mm,senjata ringan dan serpihan artileri.V600 dilengkapi dengan sistem proteksi NBC.
Kendaraan di operasikan oleh 4 orang awak termasuk komandan,penembak,loader dan pengemudi.

V600 Commando menggunakan sejumlah komponen otomotif dari V300.Kendaraan ini didukung oleh mesin Diesel Detroit V8 digabungkan dengan transmisi Allison otomatis 5 speed.dilengkapi juga dengan sistem ban run-flat.V600 dapat diangkut dengan pesawat kargo militer seperti Hercules C-130 dan pesawat sejenis.

source : informasi alutsista

Feed!

Technology

RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!
Feed!

Google+ Badge

Rudal

Image Galery

Blog Archive

Counter

Flag Counter