Teknologi Alutsista Militer

Informasi Seputar Teknologi Alutsista Militer Indonesia dan Dunia

Hantu Laut Indonesia

Published on: Wednesday, April 9, 2014 // ,



Desain Midget / Kapal Selam Mini RI
Desain Midget / Kapal Selam Mini RI
Antara midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost, saling melengkapi atau saling meniadakan ?. Perbandingan midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost akan didasari pada misi yang bisa dan tidak bisa dilakukan.
Midget, sotong dan sea ghost memiliki kapabilitas yang sama dalam melaksanan misi: patroli bawah air di perairan dangkal, underwater litoral patrol.
Kelebihan Midget ketimbang Sotong dan Sea ghost.
Faktor wawasan fikir pengawak midget membuat wahana ini dapat langsung mengantisipasi tiap ancaman yang terjadi tanpa harus berkoordinasi dengan pusat komando, selama paremeter operasional telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam skenario pusat komando tidak dapat melakukan komunikasi dengan pengawak midget, maka pengawak midget dapat mengambil keputusan sendiri.
Sotong dan sea ghost sudah pasti akan dilengkapi dengan pendeteksi kawan atau lawan, IFF – identify friend of foe, parameter ini berlaku 0 atau 1, tidak ada parameter diantara kedua pilihan tadi. Ketika sotong atau sea ghost tidak dapat terkoneksi dengan pusat komando, maka secara otomatis sotong atau sea ghost akan mengeksekusi program yang telah dibenamkan dalam memorinya, yaitu 0 atau 1. Pilihan yang akan diambil sotong maupun sea ghost adalah kuntit, kemudian hancurkan atau lepaskan.
Seal Carrier Kopaska (photo: targetabloid.com)
Seal Carrier Kopaska (photo: targetabloid.com)
Suatu kebolehjadian, eksekusi yang ingin diambil kantor pusat adalah sekedar menguntit atau bahkan menggertak, seperti kejadian kapal selam kita menyundul kapal selam aggressor. Langkah cerdas ‘menyundul’ ini hanya bisa diambil oleh perwira yang telah memiliki jam menyelam tinggi dan kemampuan berfikir yang matang dalam mensikapi parameter yang diberikan oleh pusat komando.
Untuk misi patroli perairan dangkal, maka saya berpendapat bahwa kemampuan patrol litoral midget akan saling melengkapi dengan kemampuan patroli sotong maupun sea ghost. Terlalu beresiko jika sotong maupun sea ghost menggantikan fungsi midget.
Wahana Infiltrasi Pasukan Khusus
Kegiatan infiltrasi pasukan khusus hanya dapat dilakukan oleh midget dan seal carrier dan tidak dapat dilakukan oleh sotong maupun sea ghost.
Jumlah personel yang dapat diangkut midget dibandingkan dengan seal carrier relative sama, mengingat sekarang kita telah mengakuisisi seal carrier yang dapat membawah lebih dari 6 personel.
Kelebihan midget dibandingkan seal carrier adalah faktor jarak tempuh. Karena dilengkapi dengan mesin penggerak dan baterai yang memiliki kemampuan yang lebih besar dan atau bahan bakar yang lebih banyak dari seal carrier, maka midget dapat mulai diturunkan dari jarak yang cukup jauh dari target misi tersebut.
Seal carrier memiliki radius tempuh terbatas, biasanya ditumpangkan di atas kapal selam berukuran normal atau kapal perang tertentu, kapal selam/kapal perang pengangkut ini, atau lebih sering disebut kapal selam induk/kapal perang induk harus relatif berada dalam jarak yang dekat dengan target misi agar seal carrier dapat mencapai posisi target tanpa kehabisan bahan bakar (beberapa seal carrier mengandalkan baterai sebagai sumber tenaga gerak).
Sotong
Sotong
Arsenal dalam Misi Penyerangan Pelabuhan.
Midget, seal carrier, sotong dan sea ghost memiliki kapabilitas yang relatif sama dalam menunaikan misi penyerangan pelabuhan, port raid. Misi penyerangan pelabuhan dapat dilakukan dengan melibatkan pasukan khusus atau dapat dilakukan tanpa melibatkan pasukan khusus.
Jika melibatkan pasukan khusus, maka seal carrier dapat memberikan bantuan perlindungan tembakan bagi para anggota pasukan khusus, terlepas kita sudah mengakuisisi varian ini atau belum, sudah tersedia wahana seal carrier yang dilengkapi dengan senapan mesin ringan.
Jika tidak melibatkan pasukan khusus, maka midget dapat lebih memainkan peranan karena jumlah torpedo yang dibawa midget lebih banyak dari jumlah torpedo yang dibawa sotong maupun sea ghost.
Dalam misi port raid yang melibatkan pasukan khusus, seal carrier dapat saling melengkapi dengan midget. Dalam misi port raid yang tidak melibatkan pasukan khusus, midget dapat meniadakan fungsi sotong maupun sea ghost.
Tapi jika parameter nyawa prajurit yang jadi pertimbangan, maka pilihannya jatuh pada sotong dan sea ghost. Kerugian tenggelamnya sotong maupun sea ghost hanya berdampak pada kerugian finansial dan kemungkinan bocornya teknologi kedua wahana tadi (dapat diantisipasi dengan kemampuan self destruct). Jika midget yang tenggelam, maka selain keluarga prajurit kehilangan anggotanya keluarganya, negara kita kehilangan asset berharga dan mahal, belum tentu gampang mencetak prajurit baru dengan kemampuan yang setara. Untuk pertimbangan ini, sotong dan sea ghost dapat meniadakan fungsi midget.
Sea Ghost
Sea Ghost (photo: Laurencius)
Misi Bunuh Diri
Misi ini mutlak hanya dapat dieksekusi dengan baik oleh human torpedo dan sotong. Human torpedo merupakan teknologi usang, teknologi ini ditiadakan dengan hadirnya sotong. Dengan kemampuan yang sama sama mematikan, kerugian sisi manusia dari human torpedo tidak lagi dapat diterima.
Sotong juga dapat meniadakan sea ghost dalam mengeksekusi misi ini, kemampuan menyelam sotong yang jauh lebih baik dari kemampuan menyelam sea ghost merupakan faktor mutlak yang dimiliki sotong.
Wahana Angkut Logistik
Ketika pasukan khusus berhasil disusupkan ke dalam daerah target, suplai material dan tentunya bahan makanan menjadi faktor penting. Bukan saja untuk mempertahankan hidup, tapi juga berfungsi sebagai pendorong moral bagi pasukan khusus.
Atau mengacu pada pengepungan Dunkirk, midget dapat difungsikan sebagai wahana angkut penarikan mundur pasukan. Misi infiltrasi ini hanya dapat dilaksanakan midget karena ruang kargo yang dimilikinya tidak didapati pada wahana sotong maupun sea ghost.
Human Torpedo
Human Torpedo
Unsur Pencegat, Interceptor Kapal Aggressor
Berdasarkan tayangan yang dapat diunduh via youtube, ditampilkan bahwa sea ghost dibebankan tugas sebagai interceptor, pencegat. Sebuah pilihan yang bijak. Kehilangan 10 sea ghost sebagai konsekuensi atas upaya mencegat dan menenggelamkan kapal perang aggressor dapat diterima akal sehat, ketimbang kehilangan yang timbul atas tenggelamnya kapal perang permukaan dalam melakukan misi pencegatan.
Berdasarkan tayangan tersebut, sepertinya sea ghost lebih diposisikan sebagai sebuah kapal perang mini dengan kemampuan serang terbatas yang bergerak berdasarkan panduan pusat komando. Sesudah sea ghost diturunkan, barulah kemudian armada kapal perang atas air maupun bawah air kita bergerak ke lokasi kejadian.
Sotong maupun sea ghost dapat meniadakan fungsi midget dalam misi ini. Karena sotong maupun sea ghost diturunkan setelah kapal aggressor diberi peringatan untuk segera keluar dari wilayak NKRI, jadi unsur dadakan, surprise attack tidak lagi begitu berperan. Ukuran sotong dan sea ghost yang lebih kecil dari midget sekalipun memberikan nilai lebih tersendiri disamping kemampuan stealth tentunya. (ukuran midget aja lebih kecil dari kapal selam berukuran normal).
Lalu manakah yang lebih unggul, kemampuan sotong atau sea ghost ? Hehehe… karena saya bukan operator kedua wahana tadi, agak bingung saya menjawabnya. Salah Mas Narayana sih… nggak paripurna memberikan kisi-kisinya…peace mas…bercanda doang.
Sotong punya kelebihan kemampuan menyelam yang lebih baik. Sea ghost tentunya bebas dari ancaman depth charges tapi rentan atas tembakan senapan mesin maupun rudal. Ampun deh… Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembalikan kepada user…
Penilaian di atas didasari pada :
1. Tidak terjadi penurunan semangat juang dan penurunan loyalitas pada pengawak midget dalam situasi perang.
2. Sotong dan midget diasumsikan dapat secara rutin muncul ke permukaan untuk mengisi ulang baterai tiap wahana.
3. Midget dilengkapi dengan AIP mini seperti layaknya sebuah kapal selam standar.
Tapi satu yang jadi imajinasi saya yang awam ini, penggunaan sotong maupun sea ghost dapat dijadikan sebagai cara menguras cadangan rudal yang dibawa kapal aggressor. Jadi ketika kapal aggressor telah kehabisan rudal pertahanan diri karena telah menenggelamkan 10 atau lebih sea ghost dengan menembakkan rudal-rudal pertahanan dirinya, otomatis mereka jadi sasaran empuk kapal permukaan kita.
Seperti singa yang menerkam banteng yang kelelahan setelah dikeroyok sekumpulan serigala. Ibarat pesawat tempur, flare mereka sudah keburu habis duluan untuk mengantisipasi rudal susulan yang ditembakkan pesawat tempur kita.
Kesimpulannya, midget, seal carrier, sotong dan sea ghost dapat saling melengkapi. Kita harus membangun armada tersendiri dengan kesatuan tugas tersendiri untuk tiap arsenal ini. Tidak ada wahana yang dapat melakukan semua misi, tiap wahana ada sisi plus dan minusnya.
Harga yang murah dalam memproduksi midget, sotong maupun sea ghost ketimbang membuat kapal selam berukuran normal maupun memproduksi kapal perang permukaan merupakan alasan yang tidak dapat dibantahkan untuk memperbanyak jumlah armada midget, sotong maupun sea ghost. Mengutip ucapan Stalin, “jumlah merupakan kekuatan tersendiri”. (by Afiq0110).

[Foto] Riset Teknologi TNI AD, Gladi Bersih HUT TNI AU & Penarikan Satgas MNEK

Published on: // , , , ,


Riset Teknologi TNI AD
Riset teknologi TNI AD
Riset teknologi TNI AD
Riset teknologi TNI AD

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman (kedua kiri) didampingi Rektor Surya University Yohanes Surya (kiri) memberikan penjelasan mengenai Superdrone (pesawat tanpa awak) saat pameran hasil riset berbasis teknologi kerja sama TNI AD dengan Surya University di Mabes TNI AD, Jakarta, Senin, 7 April 2014. Melalui pengembangan riset tersebut diharapkan Indonesia dapat mengembangkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) sehingga militer Indonesia tak perlu (atau mengurangi) ketergantungan kepada negara lain. 

Berikut beberapa program riset kerjasam antara TNI AD dan Surya University: 15 program riset tersebut :
  • Super Drone. Pesawat tanpa awak untuk misi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR).
  • Laser Gun. Senjata untuk latihan menembak. Hanya saja pelurunya diganti dengan berkas sinar laser. Komputer membuat tembakannya seperti tembakan peluru. Hal ini akan menghemat penggunaan peluru.
  • Open BTS. Dengan Open BTS ini, TNI AD bisa membuat jaringan selular sendiri. Cocok untuk daerah-daerah pedalaman.
  • VOIP Based Mesh Network. Sistem jaringan yang tak tergantung pada salah satu poin artinya ketika satu titik rusak, sistem tidak akan mati. Sistem ini mudah di-install.
  • APRS and Mesh Network. Sistem untuk mengatur alutsista dan tentara ketika berada di lapangan. Dilengkapi dengan sistem GPS dan uniknya ini juga self healing.
  • Nano Satelit: Satelit yang beratnya hanya satu kilogram. Untuk tahap ini baru bisa dipakai untuk komunikasi saja.
  • Integrated Optronic Defense System. Sistem pertahanan dengan memanfaatkan sistem optik dan elektronika.
  • Simulasi komputer I. Software yang dikembangkan untuk menganalisa tank atau alat perang lainnya dan mempelajari kekurangan dan kelemahan alat ini ketika dipakai di Indonesia.
  • Simulasi komputer II: Software untuk menganalisa berbagai senapan.
  • Gyrocopter. Prototipe motor terbang, diharapkan dapat membantu transportasi antar pulau-pulau kecil di Indonesia.
  • IPv6. Tiap komputer punya alamat yang disebut IP.
  • Multi Rotor. Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
  • Frapping Bird. Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
  • Alat konversi BBM ke BBG. Melalui alat ini motor-motor TNI AD akan menggunakan bahan bakar hibrid, yakni bensin dan gas. Subsidi gas sangat murah dibandingkan subsidi bensin. Gas lebih hemat tiga kilo gram motor bisa menempuh jarak 240-300 km.
  • Biotanol dari sorgum: Dilengkapi dengan genset yang sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan biothanol.
Foto: ANTARA/Zabur Karuru/fz

Bluefin-21, Drone Bawah Air yang Mencari MH-370

Published on: // ,


Bluefin-21

Seperti yang diberitakan, Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengirimkan sebuah drone bawah air ke selatan Samudera Hindia untuk menemukan pesawat Malaysia Airlines penerbangan MH-370 yang hilang. Lalu apa sebenarnya drone bawah air yang sering disebut sebagai kapal selam tanpa awak ini dan apa pula kecanggihannya?

Drone bawah air ini adalah Bluefin-21, sebuah autonomous underwater vehicle (AUV) yang berdimensi panjang 4,93 meter, diameter 0,53 meter dan berat 750 kilogram. Untuk menemukan MH-370, Bluefin-21 dioperasikan dari kapal Seahorse Standart, sebuah kapal milik Angkatan Laut Australia. Tidak hanya bisa dioperasikan dari kapal sejenis Seahorse Standart, tapi juga fleksibel untuk berbagai kapal di seluruh dunia.

Bluefin-21 dikembangkan oleh kontraktor pertahanan AS "Bluefin Robotics" dengan bekerjasama dengan US Navy. Bluefin-21 mampu menyelam di kedalaman 4.500 meter dan Bluefin-21 ditenagai dari sembilan baterai lithium-polymer yang membuatnya bertahan selama 25 jam. Dilengkapi pemindaian sonar dan kamera untuk memberikan gambaran detail permukaan laut.

Pada kecepatan 2-3 knot, Bluefin-21 mampu mendeteksi puing-puing di kedalaman dasar laut dan mengirimkan lokasi ke kapal operator terdekat di permukaan. Setelah drone diangkat kembali ke kapal, barulah petugas-petugas angkatan laut menganalisis data yang diperolehnya.
Bluefin-21

Namun, tidak seperi drone udara, kapal selam tanpa awak ini tidak bisa menerima perintah satelit ketika menyelam. Sebaliknya, Bluefin-21 menjalankan pola pencarian terprogram, dibantu oleh sistem deteksi onboard yang membantunya menghindar dari bahaya-bahaya topografi laut.

Video dibawah ini akan meberikan Anda gambaran bagaimana Bluefin-21 menjalankan misinya mulai dari diturunkan dari kapal, menyelam di sepanjang dasar laut dan kembali ke permukaan.


Ini adalah kedua kalinya bagi Bluefin-21 melakukan misi penyelamatan. Tahun lalu Bluefin-21 juga membantu proses pencarian pesawat tempur F-15 Angkatan Udara AS yang jatuh di lepas pantai Okinawa, Jepang.

Bluefin-21 diuji secara luas oleh US Navy sebagai perangkat tambahan untuk kapal dan pesawat pemburu ranjau sebagai bagian dari program Knifefish AUV. Sonar dan kameranya akan memberikan gambaran rinci keadaan di bawah laut agar operator kapal perang AS bisa menentukan apakah objek yang diidentifikasinya berbahaya atau tidak.

Program Knifefish adalah program US Navy untuk menciptakan robot bawah air untuk menggantikan lumba-lumba dan singa laut terlatih setelah sebelumnya program ini dihentikan. Bluefin-21 pertama kali diperkenalkan saat pameran US Navy pada April 2012.

Pada bulan Desember 2012, US Navy memesan delapan unit Bluefin-21, dengan total biaya sebesar USD 20 juta. Dijadwalkan untuk memulai pengujian laut pada tahun 2015, kemungkinan baru akan dioperasikan sepenuhnya oleh US Navy pada tahun 2017.

Gambar dari sonar Bluefin-21
Gambar dari sonar Bluefin-21
Dua unit Bluefin-21 juga pernah digunakan oleh Waitt Institute di California dalam misi pencarian 72 hari (2.000 mil persegi) di Samudera Pasifik Selatan untuk mencari pesawat yang hilang pada tahun 1937 yang diterbangkan oleh pilot wanita terkenal Amelia Earhart. Namun ekspedisi ini tidak menemukan apa pun.
Karakteristik Bluefin-21
   Diameter   53 cm
   Panjang   493 cm
   Berat   750 kg
   Kedalaman operasi   4.500 m
   Daya tahan   25 jam pada kecepatan 3 knot
   Kecepatan maksimum   4,5 knot
   Energi   9 baterai lithium-polymer 1,5 kWh
   Muatan standar   EdgeTech 2200-M 120/410 kHz side scan sonar
   (option: EdgeTech 230/850 kHz dynamically focused)
   EdgeTech DW-216 sub-bottom profiler
   Reson 7125 400 kHz multibeam echosounder
   Software   GUI-based Operator Tool Suite
   Data Management   4 gbflash drive plus penyimpanan data tambahan
   Navigasi   INS, DVL, SVS and GPS
   USBL tracking with vehicle position updates
   Antenna   Integrated — GPS, RF, Iridium and strobe
   Communications   RF, Iridium and acoustic;
   Ethernet via shore power cable
   Safety Systems   Fault and leak detection, dropweight,
   acoustic tracking transponder,
   strobe, RDF and Iridium
   (all independently powered)

Lalu mengapa MH-370 tidak kunjung ditemukan oleh Bluefin-21? Hal ini karena tim pencari tidak memiliki kepastian area mana di Samudera Hindia yang tepat diidentifikasi. Semua pencitraan satelit atau temuan puing tidak terkait dengan MH-370. Sedangkan drone ini memiliki jangkauan deteksi yang terbatas (dalam operasi mencari MH-370, Bluefin-21 hanya memetakan 40-60 mil persegi dasar laut dalam satu hari). Artinya, jika tidak ada parameter pencarian atau jika area pencarian tidak dipersempit, maka drone ini sama saja tidak berguna!

Gambar: Bluefin Robotics

Hatf-I artillery rocket

Published on: Wednesday, August 14, 2013 // , , ,


Hatf-I artillery rocket
Hatf I is a Pakistani battlefield range ballistic missile (BRBM) which entered service with the Pakistan Army in the early 1990s. It is deployed as an artillery rocket and has been replaced by the improved Hatf IA and Hatf IB, which have a maximum range of 100 km.
Hatf is an Arabic word meaning "Deadly" or "Vengeance". It was the name of the sword of Muhammad.

Hatf I was designed in the 1980s as a highly mobile missile for tactical use. The design is said to have been derived from the second-stage of the French Eridan missile system. Its major use is as an unguided general bombardment weapon, to be fired across a battlefield or at a general target area. If properly aimed, it can hit within several hundred meters of the target area. The missile is low cost and easy to produce and maintain in large numbers. The Hatf I missile development program dates back to the 1980s. The Hatf-I was officially revealed by Pakistani officials in 1989 and it is believed to have entered service in 1992.
HATF-I
TYPEBattle-field Range Ballistic Missile (BRBM)
SERVICE HISTORY
IN SERVICEHatf-I: 1989
Hatf-IA: 1995
Hatf-IB: 2001
PRODUCTION HISTORY
MANUFACTURERSpace and Upper Atmosphere Research Commission (SUPARCO)
Kahuta Research Laboratories (KRL)
PRODUCED1989
SPECIFICATIONS
WEIGHT1,500 kg (3,300 lb)
LENGTH6 m (19 ft 8 in)
DIAMETER0.56 m (22 in)

WARHEAD500 kg (1,100 lb) Single/Sub-munitions, Conventional/Nuclear

ENGINEsingle stage
PROPELLANTSolid
OPERATIONAL
RANGE
Hatf-I: 70 km (43 mi)
Hatf-IA/IB: 100 km (62 mi)
GUIDANCE
SYSTEM
Hatf-I/IA: unguided
Hatf-IB: Inertial guidance system
LAUNCH
PLATFORM
transporter erector launcher (TEL)

The Hatf I has a range of approximately 70 km (43 mi) and can carry a 500 kg conventional or non-conventional warhead. As it is unguided, it should be considered a long-range artillery shell, with the location of the impact depending upon the proper direction, angle of launch and the ability of the missile to fly straight. The Hatf-I is deployed with high explosive or cluster munitions, although it can theoretically carry a tactical nuclear weapon. The missile has a diameter of 0.56 m and is 6 m in length. It uses a single-stage solid propellant rocket motor.
The Hatf IA and Hatf IB are upgraded versions with improved range and accuracy. The Hatf IA increased maximum range to 100 km by using an improved rocket motor and lighter materials in the missile's construction. The dimensions and the payload capacity remain the same. Hatf-IA is believed to have entered service in 1995.

The Hatf IB represents the final evolution of the Hatf I missile system. It includes an inertial guidance system that considerably improves the accuracy of the missile and is otherwise identical to the Hatf IA, retaining the maximum range of 100 km and payload of 500 kg. The inertial guidance system allows the missile to be used as an artillery rocket against enemy military encampments or storage depots etc. 

The missile system is designed to be used like an artillery system, with 5-6 missiles fired simultaneously at the target area. Being a ballistic missile the Hatf-IB would reach its target much quicker than an ordinary artillery shell giving the target little warning to take evasive action.
Hatf-IB was first flight tested in February 2000. All current Hatf-I missiles have been upgraded to Hatf-IB standard as of 2001. The system is operational with Pakistan's armed forces.

PEMERINTAH TUGASKAN PT DI DAN PT PAL BANGUN PESAWAT TEMPUR DAN KAPAL SELAM

Published on: // , , ,


Kapal selam Inggris kelas Vanguard

Dua BUMN dalam negeri bakal menerima penugasan pemerintah untuk merancang dan mengembangkan pesawat tempur dan kapal selam canggih. Sudah bisa ditebak, tugas ini akan diemban oleh  PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT PAL.

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, PTDI saat ini sedang dalam proses mengembangkan desain pesawat tempur canggih sekelas F-22 bersama Korea Selatan. Purnomo menjelaskan bahwa targetnya adalah menghasilkan pesawat tempur sekelas F-22 Raptor atau naik ke F-35 Joint Strike Fighter.

"Pilihannya mau tetap seperti sama dengan F22 atau naik ke F35," dikatakan Detik Finance mengutip pernyataan Purnomo saat lebaran.

Ditegaskan Purnomo, program pengembangan pesawat tempur yang bernama Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) ini tetap berjalan, meskipun pemerintah Korsel sempat menghentikannya sementara. Indonesia sendiri mengambil porsi 20% dari seluruh biaya pengembangan program ini.

"Dulu kita sudah siapkan skema pembiayaan dan DPR sudah setuju. DPR kan sudah lihat desain kita yang di Bandung. Hanya kita nunggu dari Korea. Ini kan pemerintahan baru (Korsel), nanti akan ada hubungan 60 tahun Indonesia Korea. Kita akan menandatangani pengukuhan kerjasama pertahanan," tambah Purnomo.

Sebelumnya pada Juni lalu Detik finance juga mengabarkan bahwa PTDI tengah membangun fasilitas enjineering untuk jet tempur KFX/IFX di pabriknya yang terletak di Bandung, Jawa Barat.

PT DI selama ini tidak hanya memproduksi pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. PT DI merupakan pabrik pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara.

Kapal Selam PT PAL 

Selain PT DI yang mengembangkan jet tempur, BUMN lainnya yakni PT PAL siap menerima penugasan untuk mengembangkan kapal selam canggih bersama Korsel. Untuk kapal selam, tahap awal akan diproduksi sebanyak 2 unit di Korsel.

Kemudian PAL akan memproduksi sendiri kapal selam canggih di galangan kapalnya di Surabaya Jawa Timur pada tahun 2015 atau paling lambat tahun 2016. Sebelumnya dikabarkan bahwa Indonesia tengah bersiap membangun infrastruktur pembuatan kapal selam.

"Itu sekarang pertama kedua sedang dibuat di Korea. setelah itu dibuat di PT PAL. Di PT PAL kita renovasi dulu kita buat dulu hanggar menjadi tempat pembuatan kapal selam," jelasnya.

Selama ini, PT PAL yang berpusat di Surabaya ini sudah banyak memproduksi kapal-kapal dagang seperti dari tanker, kargo hingga kapal perang seperti kapal patroli cepat dengan ukuran yang bervariasi.
Kembali ke KFX, jika melihat pernyatan Purnomo, target KFX/IFX tampaknya adalah generasi 5, bukan generasi 4,5. Pesawat generasi 4,5 tentu saja belum sekelas dengan F-22 yang merupakan generasi 5.  Hal ini terkait teknologi siluman yang digunakan. Tapi bisa saja maksud Purnomo sejajar dengan F-22 itu dalam hal pengecualian dengan teknologi silumannya.

Detik Finance
Kredit foto : Royal Navy

UAVs in the U.S. Coast Guard

Published on: // , ,


scaneagle_cg_test
Scan Eagle UAS flying close to USCG cutter bertholf, prior to being caught by the vessel’s Skyhook, that snatches the drone in flight, retrieving it safely on board.

This spring with the aid of a small, unmanned drone more than half a ton of cocaine was confiscated — signaling the first time the U.S. Coast Guard deployed an unmanned aerial system from a cutter in a drug interdiction.
The service has put the ScanEagle through two weeks of trials at sea in May and has high hopes for the future: rolling out a small UAS across its national security cutter fleet, starting in fiscal 2017. The trial aboard the cutter Bertholf, conducted off the western coast of Central America, was used to assess how unmanned vehicles operate with Coast Guard cutters.
The UAVs, which relay video back to the ship, increase the surveillance reach of the NSCs. The overhead surveillance can help bust drug smugglers, but it can also track flight patterns or fishing operations.

A Scan Eagle UAS is retrieved by the Skyhook, installed at the aft of USCG Cutter Bertholf.
A Scan Eagle UAS is retrieved by the Skyhook, installed at the aft of USCG Cutter Bertholf.

During the two-week demo, the ScanEagle completed 90 hours of flight time. The Bertholf crew seized the cocaine in late May using the UAV to spy on a go-fast boat smuggling the drugs in the eastern Pacific. During the operation, the ScanEagle “was able to maintain visual surveillance of the target until a cutter was able to get out and interdict the vessel,” said Lt. Cmdr. Jeff Vajda, the unmanned aerial system platform manager for the office of aviation forces.
This is not the first time the Coast Guard had tried to equip its NSCs with unmanned capabilities. EagleEye, a rotary wing UAV, was tested but ultimately abandoned in 2007 “due to rising costs and technical challenges,” said Cmdr. Albert Antaran, the aviation portfolio manager for the office of research, development, test and evaluation. With the cancellation of that project, the NSC’s aerial surveillance coverage area dropped from a potential 58,000 nautical miles to about 18,000 nautical miles, according to a 2009 Department of Homeland Security report.
The Coast Guard is trying again, but this time with a smaller UAV that’s easier to field and already has a proven flying record in the Navy and Marine Corps. May marked the second demo of the ScanEagle. The first was on NSC Stratton last summer and focused on the basics. The third demonstration will be in early 2014.
The service hopes to obtain hard numbers on the value that the unmanned system provides the Coast Guard, Vajda said. That would include measuring the surveillance capabilities of sensors, and how well they can detect objects at sea.
The Coast Guard’s five year investment plan calls for small UAS purchases in fiscal 2016, so that’s “the soonest we can spend any real money,” Antaran said.
And while it is evaluating the ScanEagle, the service may ultimately opt for a different airframe, Vajda said. Although it looks like the service’s first cutter-based drone will be a small UAS, it’s just an interim solution. The service is still monitoring the Navy’s Fire Scout, an unmanned helicopter, as a possibility. The Fire Scout is much larger — at more than 30 feet, it’s seven times the length of the 4.5-foot ScanEagle.
Each cutter with a small UAS will likely have a specialized six-person detachment of Coasties onboard to operate the drone, Vajda said. Pilots will be officers, as there are no immediate plans for enlisted to fly unmanned aircraft, Vajda said. The detachment will include three pilots and the rest of the crew will be enlisted who cover maintenance and launch and recovery.
The Coast Guard already has eight active operators of unmanned aircraft, but they deploy the land-based MQ-9 Guardian, owned by U.S. Customs and Border Patrol. They operate the Guardian jointly with CBP from stations in Florida and Texas.
Long-term, the Coast Guard also envisions UAVs on offshore patrol cutters, the replacement for the medium endurance cutters, Vajda said.
Officials stress the service’s UAVs are not meant as replacements for Coast Guardsmen, but are meant to contribute to manned capabilities.
Scan Eagle UAS is launched from the aft deck of the USCG Cutter Bertholf.
Scan Eagle UAS is launched from the aft deck of the USCG Cutter Bertholf.

KORSEL LUNCURKAN KAPAL SELAM 1.800 TON KE-4

Published on: // , ,


Angkatan Laut Korea Selatan meluncurkan kapal selam 1.800 ton Tipe 214 ke-4 dalam sebuah upacara di Pulau Geoje, Korsel, Selasa, 13 Agustus 2013. Peluncuran kapal selam ini merupakan bagian dari upaya Korsel untuk meningkatkan kemampuan perang bawah airnya terhadap kapal-kapal selam Korea Utara.



Peluncuran kapal selam Tipe 214 Korea Selatan
Peluncuran kapal selam Tipe 214 Korea Selatan (Foto via Military Photos)
Kapal selam tersebut dinamai dengan tokoh pejuang kemerdakaan ternama Korea Kim Jwa-Jin (1889-1930), dan merupakan kapal selam yang ke-4 dari jenisnya (Tipe-214) yang sudah dioperasikan Korsel sejak 2010. Kim adalah pejuang kemerdekaan Korea (kala itu Korea masih satu) yang memimpin pertempuran Cheongsan-ri untuk mengalahkan 3.300 tentara Jepang di wilayah timur laut China pada tahun1920.

Presiden Park Geun-hye, Menteri Pertahanan Kim Kwan-jin dan petinggi-petinggi militer Korsel turut menghadiri upacara pemotongan pita yang diadakan di galangan kapal Daewoo (produsen) di Pulau Geoje, dekat kota pelabuhan selatan Busan.

Kapal selam ini bisa memukul 300 target secara bersamaan, dilengkapi dengan rudal dan torpedo serta sistem sonar canggih untuk peperangan anti kapal selam, pengawasan dan pengintaian.

Kapal selam diesel ini juga dilengkapi dengan fitur Air Independent Propulsion (AIP), yang menambah daya tahan kapal selam di dalam air dibandingkan dengan kapal selam konvensional. Sistem AIP menjadikan kapal selam bisa terus berada di bawah air selama beberapa minggu tanpa perlu muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen.

Angkatan Laut Korsel sendiri baru akan menerima kapal selam ini pada akhir 2014 setelah proses uji coba dan baru beroperasional penuh pada tahun 2015, kata pejabat Korsel.

Korsel saat ini mengoperasikan lebih dari 10 kapal selam, termasuk kapal selam 1.200 ton Tipe 209 (9 unit) dan 1.800 ton Tipe 214 (3 unit + sekarang). Tipe 209 sendiri adalah jenis kapal selam yang dibeli Indonesia saat ini dari Korsel dengan proses transfer teknologi. Indonesia membeli 3 kapal selam jenis ini, dua unit dibangun di Korsel dan satu unit lagi dibangun sendiri oleh Indonesia.

Angkatan Laut Korsel juga berencana untuk mengakuisisi sembilan kapal selam serang kelas berat 3.000 ton pada 2020 dengan peningkatan signifikan pada radar dan persenjataan dibandingkan dengan kapal-kapal selam pendahulunya.

Korea Utara diketahui memiliki sekitar 70 kapal selam, salah satunya lah yang diduga menembak kapal korvet Korea Selatan di laut barat (wilayah ketegangan) pada Maret 2010. Sebanyak 46 personelnya tewas dalam insiden itu.

source : artileri

KRI Malahayati (362)

Published on: // , ,
KRI Malahayati (362). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Malahayati (362)
KRI Malahayati (362) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah milik TNI AL. Dinamai menurut Malahayati, salah seorang Laksamana wanita. KRI Malahayati merupakan sebuah fregat yang dibuat oleh galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai armada pemukul dengan kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam dan antipesawat udara. Termasuk dalam kelas Fatahillah bersama KRI Malahayati antara lain KRI Fatahillah (361) dan KRI Nala (363).

Data teknis
KRI Malahayati (362) memiliki berat 1.450 ton. Dengan dimensi 83.85 meter x 11.1 meter x 3.3 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan22.360 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 30 knot. Diawaki oleh maksimal 82 pelaut.

Persenjataan
KRI Malahayati (362) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

  • 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan [Aerospatiale] MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
  • 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28.
  • 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
  • 12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
  • Mortir anti kapal selam Bofors 375mm laras ganda.
Sensor dan elektronis
KRI Malahayati (362) dilengkapi radar Racal Decca ARPA BridgeMaster250 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Radar pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menggunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Electronic Support Measures (ESM) dari tipe DR-3000 (Dalam proses pemasangan) menggantikan Susie yang telah uzur. Pemandu tembakan optronik dari jenis Liod Mk1.

wikipedia.org 

Feed!

Technology

RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!