Jakarta - Murid Sekolah Dasar (SD) Anugerah Pekerti Surabaya Lucan Felicianomenciptakan robot pengangkut sampah. Karyanya tersebut dipamerkan dalam kompetisi robot Energizer Indo Robo Masters Cup yang diselenggarakan di Jakarta.
"Robot ini bertugas mengangkut sampah dari keranjang ke mobil pengangkut," ujar murid kelas 6 itu yang terinspirasi dari kesulitan petugas kebersihan mengangkut sampah, Sabtu (8/11/2014). "Saya terpikir untuk membuat robot itu."
Lucan mengaku tak membutuhkan waktu lama untuk membuat robot tersebut, hanya butuh waktu 3 pekan.
"Bahan yang digunakan dari bahan yang tidak terpakai," kata Lucan yang berharap robot itu dapat bermanfaat bagi masyarakat. "Belajar robot dari sekolah, ada ekstrakurikulernya."
Kompetisi robot diikuti 1.000 siswa dari sejumlah sekolah di Tanah Air. Siswa menciptakan robot sesuai dengan tema yang diusung serta beradu keahlian.
Terdapat 11 kategori permainan yang dipertandingkan dalam kompetisi tersebut. Tema yang diusung pada 2014 yakni Save the Earth yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Para peserta dituntut untuk membuat robot yang bermanfaat untuk bumi dan lingkungan.
Kepala divisi komersial Energizer Indonesia, Muhammad Imaduddin, mengatakan pihaknya berupaya untuk menyebarkan energi positif kepada masyarakat melalui kegiatan itu.
"Kegiatan ini sudah memasuki tahun ke-6. Tahun ini kami menggandeng ITLE dalam memberikan pelatihan robotik kepada siswa," jelas Imaduddin.
Direktur lembaga edukasi robot ITLE, Christin Charlotte, mengatakan pihaknya berkeliling ke sekolah-sekolah untuk menanamkan kecintaan masyarakat pada robot.
"Sasaran yang mudah tentu sekolah, karena lebih mudah menanamkan kecintaan akan robot pada anak, dibandingkan orang dewasa," jelas Christin. Meski demikian ia juga mempersilahkan orang dewasa untuk mendalami robotik.
Christin mengatakan lembaganya juga meminjamkan robot ketika memberi pelatihan. "Semuanya gratis," ujarnya. (Ant/Ein)
source: liputan6
Para pesepakbola profesional, seperti Lionel Messi atau Neymar tampaknya harus ekstra hati-hati, karena robot bisa menggantikan peran mereka. Seperti apa?
Seperti dikutip dari DailyStar, digelar sebuah pertandingan sepakbola antar robot, yakni Israel melawan Australia, yang berakhir 1-1.
RoboCup, kejuaraan sepakbola robot yang pesertanya datang dari 40 negara, dan digelar di Einhoven, Belanda.
"Inilah keuntungan yang dimiliki robot, ketimbang manusia. Tidak ada kesalahan, robot melakukan apa seperti yang kami program," ujar Dickens He dari University of Pennsylvania, yang tergabung di tim bernama UPennalizers.
Dan satu yang pasti, pada sepakbola robot tidak bakal terjadi perkelahian antar pemain. [ikh]
(Foto: Ubergizmo)
LONDON - Peneliti mengembangkan salah satu robot yang diklaim paling canggih di dunia. Robot ini tidak hanya mampu berjalan seperti manusia, tetapi juga dapat memetakan area di sekelilingnya, serta mengingat area yang telah ditinggalkannya.
Dilansir Indiatimes, Jumat (5/7/2013), algoritma penglihatan komputer yang disematkan pada robot mirip manusia (humanoid) bernama Roboray ini bisa membangun peta visual 3D secara real-time. Dengan demikian, robot yang dikembangkan peneliti dari University of Bristol ini bisa bergerak lebih efisien.
Kemampuan untuk membangun peta visual secara cepat ini dibantu dengan kamera, yang bertindak sebagai navigasi pada autonomous robot (robot yang bisa bergerak otomatis). Dengan peta visual ini, robot bisa terbantu dalam navigasi, saat tidak ditemukannya sinyal global positioning system (GPS) atau referensi navigasi lainnya.
Roboray adalah salah satu robot humanoid yang paling maju di dunia. Kabarnya, robot yang diproduksi oleh Samsung ini memiliki tinggi 140 centimeter dan berat 50 kilogram. Robot ini dibekali kamera stereo di kepala dan 53 aktuator yang berbeda termasuk enam aktuator untuk setiap kaki dan 12 untuk masing-masing tangan.
Robot ini memiliki berbagai teknologi baru dan berkemampuan untuk berjalan dengan cara yang lebih mirip dengan manusia sungguhan. Dengan kemampuan mutakhir tersebut, robot bisa memanfaatkan kekuatan gravitasi untuk membawanya maju melangkah ke depan tanpa harus mengeluarkan banyak energi.
"Sebuah robot humanoid memiliki bentuk yang ideal untuk dapat menggunakan alat yang sama dan ruang yang didesain untuk manusia. Robot ini juga memiliki kecerdasan mesin yang dirancang untuk interaksi manusia," kata Walterio Mayol-Cuevas, Deputy Director Bristol Robotics Lab.
Screenshot YouTube
BERLIN - Insinyur di Jerman mendemonstrasikan ROBOT APE. Robot yang menyerupai gorila ini diperlihatkan dengan kemampuan berjalan yang serupa dengan hewan asli.
Dilansir Theregister, Jumat (28/6/2013), keseimbangan relatif mudah untuk manusia, karena masa dipercaya telah mengalami evolusi hingga ribuan tahun. Namun, ini akan sulit bagi para peneliti robotika.
Para peneliti di Pusat Penelitian Jerman untuk Artificial Intelligence telah memutuskan untuk melewatkan bipedism (robot yang mampu berdiri dengan dua kaki) demi sebuah robot yang berjalan seperti gorila.
Kabarnya, robot yang aksi geraknya divideokan dan diunggah ke YouTube ini memiliki sensor tekanan di setiap kakinya. Sensor tersebut antara lain, sensor jarak, sensor suhu dan sensor posisi serta sensor gaya disepanjang tulang belakang.
Baterai sudah disematkan dalam tubuh robot gorila ini. Para peneliti berencana untuk mengganti desain saat ini yang kaku dengan komponen yang lebih baik untuk mobilitas yang lebih besar.
Peneliti menggambarkan robot yang dinamakan iStruct ini sebagai proyek robotika luar angkasa, dan telah menguji robot pada kawah buatan
Konsep robot penjelajah pada 2020 mendatang (Foto: Softpedia)
CALIFORNIA – Belum genap satu tahun robot penjelajah milik NASA bernama Curiosity berkelana menjelajahi Mars, kini badan antariksa di Amerika Serikat (AS) tersebut tengah merencanakan misi robot berikutnya.
Seperti diketahui, Curiosity mulai menjalankan misinya di planet merah sejak Agustus 2012 lalu. Adapun tujuan utamanya yakni mencapai dasar Shrap Mountain yang terletak di tengah-tengah kawah ‘Gale’.
Rencananya, robot penjelajah berikutnya ini akan dikirim ke Mars pada 2020 mendatang. Robot tersebut akan dibangun dengan bahan dasar yang sama seperti Curiosity. Di mana, memiliki bodi lebih besar dibandingkan pendahulunya yaitu Spirit dan Opportunity. Demikian disitat Softpedia,
Meskipun robot berikutnya akan memiliki kesamaan fisik dengan Curiosity, namun dipastikan ia akan menerima instrumen ilmiah yang jauh berbeda. Saat ini NASA masih menunggu masukan dari para ilmuwan untuk merumuskan instrumen apa yang cocok diterapkan ke robot barunya nanti.
Bocoran yang ada, NASA sudah menggodok instrumen deteksi kehidupan. Walaupun robot penjelajah terdahulunya sudah dibekali instrumen untuk mencari tanda-tanda kehidupan masa lalu di planet merah tesebut, tetapi mereka tidak memiliki pendeteksi biomarker. Hal tersebut lah yang menjadikan selama ini sulit menemukan jejak kehidupan di permukaan Mars.
Sebagai informasi, Spirit dan Opportunity dirancang untuk mencari lingkungan berair. Sedangkan,Curiosity dirancang untuk mencari informasi mengenai kondisi yang menguntungkan bagi kehidupan di masa lalu Mars. Sementara, robot penjelajah berikutnya akan ditugaskan untuk mencari informasi mengenai tanda-tanda kehidupan masa lalu di Mars. (amr)
Para Insinyur dari Virginia Tech College of Engineering baru saja menciptakan sebuah robot yang menarik. Robot tersebut merupakan sebuah robot autonomus yang berbentuk seekor ubur-ubur.
Proyek ini pun merupakan sebuah riset yang didanai oleh US Navy dan telah berjalan selama 6 tahun. Nantinya, robot ini pun dapat digunakan sebagai sarana untuk mengamati kondisi di lautan. Robot ini pun memiliki bentuk yang mirip dengan ubur-ubur dan bahkan gerakannya pun mirip.
Penelitian mengenai robot ini pun sudah berjalan cukup lama. Versi pertama robot yang disebut Robojelly ini diperkenalkan pertama kali pada tahun lalu. Selanjutnya, mereka memperkenalkan versi kedua yang disebut Cryo. Robot Cryo ini pun memiliki selimut waterproof yang menghubungkan delapan lengan yang bisa digerakkan.
Para peneliti tersebut pun masih akan terus melanjutkan pengembangan robot ini. Baik dari desain ataupun kemampuannya. Saat ini, robot ubur-ubur ini mampu bertahan selama empat jam. Dengan waktu masih 3 tahun lagi, pengembangan robot ini pun masih sangat memungkinkan.
Sebuah perusahaan bernama Rethink Robotics berhasil menciptakan sebuah robot yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Robot tersebut adalah sebuah robot bernama Baxter.
Robot ini dilengkapi dengan kemampuan belajar yang sangat cepat. Dan, untuk memberi pelatihan pada robot ini pun sangat mudah. Pihak perusahaan mengklaim bahwa tidak perlu menjadi seorang ahli untuk bisa mengajari robot ini sebuah hal yang baru.
Pihak Rethink mengatakan bahwa robot ini juga memiliki kemampuan adaptabilitas yang tinggi. Berkat kemampuannya tersebut, robot ini dapat menyesuaikan dirinya dengan berbagai jenis lingkungan yang berbeda.
Bahkan pihak perusahaan mengklaim bahwa robot ini sangat mudah untuk memperoleh sebuah kemampuan baru. Untuk mempelajari sebuah hal baru, robot Baxter membutuhkan waktu kurang dari 30 menit.
Selain memiliki kemudahan dalam mempelajari hal baru, robot ini juga dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebuah perusahaan bisa memperoleh robot ini dengan harga $22.000 USD atau sekitar 210 juta rupiah dan mulai dijual pada Oktober mendatang.
Jepang, sebuah negara yang terkenal dengan kemampuannya untuk menciptakan segala sesuatu ini kini sedang mengembangkan sebuah teknologi baru yang unik. Para pakar teknologi di jepang berusaha keras untuk menciptakan sebuah robot tercanggih.
Menurut para ilmuan di negeri matahari terbit itu, robot yang canggih bukanlah robot yang mampu bergerak dengan cepat, robot yang mampu terbang di udara ataupun robot yang mampu berperang dan dapat membinasakan musuh, tapi, robot yang canggih adalah robot sederhana yang mampu berpikir dengan sendirinya.
Beberapa tahun silam banyak orang yang merasa pesimis bahwa robot yang mampu berpikir dengan sendirinya akan dapat diciptakan, namun kini jepang berhasil menepis anggapan lama itu. Sesuai perkembangan jaman saat ini yang semakin maju dengan cepat, perkembangan teknologi robot yang kian diperbaharui oleh para ilmuwan pun semakin maju dengan pesat.
Robot pintar yang kini sedang dikembangkan oleh Tokyo Institute of Technology ini bernama Self-Organizing Incremental Neural Network (SOINN). Robot pintar ini dapat berpikir dengan sendirinya, diantaranya mampu melakukan hal yang belum pernah diprogramkan sebelumnya, belajar mengenali benda yang belum pernah dilihat sebelumnya dan satu lagi yang paling mutakhir, robot ini mampu mengkoneksikan diri dengan internet, sehingga dapat mengakses segala sesuatu yang terjadi di belahan dunia manapun untuk dipelajari.
Dunia penuh robot sepertinya semakin dekat. Setelah sebelumnya ada robot dengan bentuk mirip kucing, kini sebuah robot lain mirip binatang kembali diperkenalkan. Robot tersebut bernama Robo Raven yang mempunyai struktur tubuh mirip burung.
Kemiripan robot ini dengan burung terletak pada kemampuannya untuk mengepakkan sayap. Robot ini dilengkapi dengan dua motor sinkron yang bertugas untuk mengepakkan sayap. Dengan adanya motor, baterai serta aktuator, tentunya robot ini mempunyai bobot yang cukup berat dan menjadi masalah jika dipakai terbang. Namun para peneliti tersebut menemukan solusinya.
Robot yang dikembangkan oleh tim peneliti dari University of Maryland, Amerika Serikat ini pun mempunyai bobot yang ringan dengan memanfaatkan teknologi printing 3D. Dengan teknologi tersebut, bodi robot bisa dibuat lebih ringan dengan bahan dari polimer.
Menariknya, robot ini tidak hanya memiliki kemampuan terbang. Bahkan robot canggih ini juga bisa melakukan manuver-manuver seperti yang dilakukan oleh burung. Terlebih dari kejauhan, robot ini tampak seperti burung biasa.
Zaman robot kian mendekat. Pentagon melalui salah satu lembaga yang dibawahinya, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) pun mengembangkan beberapa proyek pengembangan robot. Yang terbaru adalah sebuah robot ala terminator bernama ATLAS.
Robot tersebut memiliki tinggi 1.8 meter dengan bobot mencapai 150 kilogram. Untuk membuat bodi robot tersebut, DARPA pun melakukan kerja sama dengan sebuah lembaga bernama Boston Dynamics.
Pihak Boston Dynamics mengklaim bahwa robot tersebut memiliki bodi yang kuat dan mampu memanjat dengan memakai tangah serta kakinya. Robot ini pun dibuat untuk bisa mengatasi berbagai jenis medan, dari medan berlumpur, hutan, padang pasir dan lain-lain.
Untuk memamerkan kemampuan robot ini, DARPA pun baru saja merilis sebuah video. Dalam video tersebut, robot ATLAS ini diperlihatkan melakukan berbagai gerakan, dari berjalan hingga menghindari beberapa halangan.
https://www.youtube.com/watch?&v=zkBnFPBV3f0
Robot ikan (Foto: Nanowerk)
TALLINN - Ilmuwan mengembangkan robot ikan yang bisa menyelam atau berenang mirip ikan sungguhan. Kemampuan khusus yang disematkan pada robot baru tersebut, memungkinkan robot untuk bisa mendeteksi lingkungan di bawah air. Dilansir Phys, Jumat (19/7/2013), dalam waktu beberapa tahun terakhir, kendaraan robot bawah air banyak digunakan untuk industri maupun sektor sipil. Robot yang didesain serupa dengan bentuk ikan ini juga digunakan untuk komunitas sains untuk mempelajari lingkungan di laut. Ilmuwan juga dapat memanfaatkan robot untuk digunakan pada studi hewan laut serta tanaman di habitat aslinya di dasar laut. Terkini, ilmuwan berhasil menciptakan robot bawah laut yang memiliki desain serupa dengan ikan sungguhan. Kendaraan 'biomimetic' ini bisa bermanuver atau bergerak persis hewan aslinya. Proyek yang dinamakan FILOSE ini menghadirkan robot ikan yang memiliki kemampuan memahami lingkungan bawah air. Mirip hewan aslinya, robot ikan ini diklaim bisa berenang di lingkungan alam dengan merasakan aliran air di sekitaranya dan bereaksi terhadap perubahan pola aliran air. Partner proyek FILOSE ini dikembangkan oleh ilmuwan dari Centre for Biorobotics Tallinn University of Technology di Estonia. Robot ini menyerupai jenis ikan 'rainbow trout' dalam sisi desain dan perilaku. Ekor robot ikan juga dilengkapi dengan teknologi 'servomotor' tunggal yang terletak di rongga dada. Komponen tersebut menciptakan gelombang yang membuat robot mampu bergerak ke depan ketika berada di dalam air. Bagian kepala robot yang kedap air ini memiliki sensor dan komponen elektronik. Ilmuwan percaya suatu saat pengembangan lebih lanjut terkait teknologi bawah air baru ini bisa membantu industri minyak dan gas, penghapusan ranjau bawah air, operasi pemantauan, pencarian dan penyelamatan lingkungan, kegiatan anti-teroris, pengawasan pelabuhan serta keamanan
Dikembangkan Honda, robot mampu menyuguhkan gambar dalam format 3D.
Honda Motor Co Ltd dan Advanced Industrial Service & echnology (AIST) bekerja sama mengembangkan robot survei berakses tinggi di Stasiun Energi Nuklir TEPCO Fukushima Daiichi yang dapat dikendalikan dari jarak jauh
Robot ini berfungsi untuk melakukan penelitian lapangan di reaktor nuklir Fukushima Daiichi milik Tokyo Electric Power Company Inc (TEPCO). Robot tersebut mulai aktif bekerja sejak tanggal 18 Juni 2013. "Robot survei ini dikembangkan untuk menyediakan berbagai kebutuhan informasi aktual mengenai kondisi di dalam reaktor nuklir," tulis Honda melalui keterangan tertulisnya, Selasa 25 Juni 2013. AIST bertugas mengembangkan akses platform yang dapat menjangkau area-area yang tinggi, sementara Honda mendapuk bagian lengan robot yang dipasang di atas platform tersebut. Adapun teknologi yang diterapkan Honda pada lengan robot itu meliputi teknologi yang memungkinkan tampilan tiga dimensi dari berbagai struktur di sekitar area subyek survei. Selain itu, lengan tersebut dilengkapi sistem pengendalian yang memungkinkan kontrol secara simultan terhadap beberapa persendian lengan robot. Dengan teknologi ini, lengan robot dapat bekerja secara simultan dan lebih mudah menjangkau objek yang terhalang oleh benda lainnya, mengonfirmasi data 3D secara lebih rinci, serta mengidentifikasi sumber radiasi yang terdapat di dalam struktur gedung reaktor nuklir. Sementara itu, AIST juga menerapkan teknologi pada remote control dan kamera pintar yang memungkinkan pengendalian jarak jauh melalui kabel serat optik LAN dan juga nirkabel LAN sejauh 400 meter.
Teknologi robot anyar ini merupakan perkembangan dari teknologi robot humanoid ASIMO yang dapat membantu kegiatan sehari-hari manusia.
Honda juga telah mempelajari serta meneliti mengenai kemungkinan penggunaaan robot humanoid di lokasi bencana, misalnya di wilayah Jepang bagian timur yang mengalami gempa bumi besar dan tsunami pada Maret 2011 silam. (asp)
Cara berjalannya pun dibuat sangat mirip. Apa alasannya?
Bulan tampaknya akan menjadi koloni robot sebelum nantinya membuka kemungkinan menjadi habitat baru yang layak huni untuk manusia di masa mendatang.
Ya, setelah China menyiapkan robot berupa kendaraan penjelajah beroda di bulan, kini Jerman ikut ambil bagian. Kabarnya, negara republik federal itu tengah mempersiapkan proyek robot berwujud monyet yang diperkirakan rampung bulan Agustus mendatang.
Seolah tak mau ketinggalan, Negeri Panser itu sedang meracik robot yang lebih canggih, robot monyet yang bisa memanjat dan berjalan layaknya seekor monyet.
Kemampuan robot itu diklaim bisa lebih baik ketimbang robot beroda dalam menjelajahi medan tanah berbatu di bulan.
iStruct Demonstrator, demikian nama robot monyet yang dibesut Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan (DFKI) Jerman dan Universitas Bremen.
Robot monyet ini memiliki lengan, kaki, dan tulang belakang mekanik, yang bisa meniru perilaku primata sesungguhnya. Tim teknisi telah menguji robot itu pada pusat lanskap bulan di DFKI.
Peneliti pada DFKI mengatakan, untuk medan bulan, tubuh primata lebih cocok karena sikap kaki empat yang stabil saat memanjat rintangan atau bukit. Tak hanya itu, robot juga bisa segera berdiri dengan tegak begitu terjatuh.
Konon, iStruct Demonstrator juga mampu berdiri dengan kedua kaki belakang dan bekerja dengan lengan untuk mengambil sampel ataupun menyingkirkan hambatan yang berada di sekitarnya.
iStruct Demonstrator memiliki berat 18 kg dengan ukuran 66 x 43 x 75 cm. Tulang belakangnya terhubung dengan batang tubuh dan pinggul kaki serta struktur pergelangan kaki.
Tulang sendi robot masing-masing dilengkapi sensor yang bereaksi dan merespons sampai bawah tanah. (Dailymail)
Diperkaya sensor
iStruct Demonstrator mirip dengan robot simpanse dikembangkan untuk badan riset Kementrian Pertahanan AS (DARPA) Robotics Challenge.
Tulang belakang iStruct bekerja dengan enam sumbu sensor putaran yang membuatnya gesit dalam merangkak. Sementara sensor di kaki dan pergelangan kaki memungkinkan robot untuk menjaga keseimbangan pada medan miring.
"Tujuan dari proyek iStruct adalah menciptakan sistem robot yang secara efektif bisa meningkatkan karakteristik gerak dan mobilitas," tulis peneliti pada paparan studinya, dilansirDaily Mail, 1 Juli 2013.
"Fokus utama proyek ini yaitu pengembangan struktur kecerdasan aplikasi pada robot mobileuntuk meningkatkan efisiensi kompleksitas mesin saat berjalan," tambah peneliti.
Soal banyaknya sensor, peneliti menjelaskan, diperlukan agar menimbulkan persepsi yang tepat dan akurat mengenai kondisi lingkungan bulan.
Pada tahun 2009, pimpinan proyek, Daniel Kuhn sempat mengerjakan proyek robot serupa yang disebut Little Ape yang secara sederhana mampu berjalan dengan kaki empat. Namun, Kuhn meninggalkannya sementara untuk fokus pada iStruct Demonstrator.
Bagaimana cara robot ini bekerja? Berikut cuplikan videonya:
20 ribu robot pekerja yang sedang diproduksi pihak Foxconn Technology Group - (ilustrasi)
Foxconn, pabrik produsen gadget di China, bakal mengganti para pekerjanya dengan robot.
Seperti dikutip dari NetworkWorld, pihak Foxconn Technology Group, mengatakan bahwa di pabrik mereka kini sudah ada 20 ribu robot pekerja yang sedang diproduksi, dan jumlah itu bakal terus meningkat seiring dengan tujuan mereka memiliki jutaan robot pekerja di pabriknya.
"Upah pekerja di China terus naik, oleh karena itu perusahaan kini tengah mempercepat penelitian dan pembuatan robot, demi mengejar ketertinggalan yang ada," ungkap CEO Foxconn Terry Gou.
"Kami sudah memroduksi lebih dari satu juta robot pekerja. Ke depannya kami akan menambah satu juta lagi robot pekerja. Nantinya pekerja kami yang manusia hanya bakal menjabat sebagai teknisi saja," tambahnya.
Saat ini Foxconn merupakan pabrik produsen gadget terbesar di dunia dengan sejumlah klien seperti Apple, Microsoft, Sony, dan lain sebagainya. [ikh]
Ada 5 penemuan yang begitu unik untuk diketahui di tahun 2013 ini, yakni penemuan teknologi yang terinspirasi dari kekuatan 5 Super Hero. Dimana, kemampuan yang dimiliki oleh
beberapa Super hero yang pernah kita tonton, ternyata ada pada sebuah alat yang menjadi penemuan teknologi terbaru untuk dikembangkan di tahun 2103. Lalu kekuatan Superhero dan alat manakah yang dimaksud? Berikut jadibisadotcom menjelasknnya: 1. Superman : Kemampuan melihat yang menembus dinding
Ialah kamera yang bernama Camero's Xaver 800, dilengkapi dengan radar gelombang mikro, memungkinkan untuk menembus dinding dan proyek pencitraan 3-D dari benda apa pun yang bersembunyi di balik dinding-dinding yang tebal sekalipun, mampu mencitrakan tembus dinding tua biasa, batu bata tanah liat, blok sinder bahkan struktur beton bertulang sekalipun, semuanya dapat ditembus Camero's Xaver 800. Sama halnya dengan Superman, ternyata juga punya kryptonite atau kelemahannya, yakni penglihatan kamera ini tidak dapat menembus logam solid.
Selain kamera Xaver 800, yang tidak kalah populer adalah sinar X, dimana sering digunakan di seluruh bandara Internasional dunia dalam memeriksa kelengkapan dan isi koper dari calon penumpang pesawat terbang. Ada jenis Sinar x genggam yang ditawarkan Fisik Optik Corporation yang disebut LEXID, yang dapat mengungkapkan selundupan tersembunyi di balik tembok, di mobil dan dalam wadah lain 2. Perekat ala Spiderman Pada Dinding
Para ilmuwan senantiasa mengembangkan perekat sintetis yang meniru cicak selama bertahun-tahun, dan penemuan tersebut kini berpotensi menjadi kenyataan, melalui metode baru yang menggunakan plastik untuk membuat struktur mikroskopis serupa. teknologi ini akan membantu robot dalam eksplorasi batas akhir pada medan dinding.hal ini masuk akal, mengingat prinsip yang sama pada alat perekat yang kini manusia telah terbiasa menggunakannya. 3. Kekuatan Otot kekar seperti Hulk
Disebut Berkley Bionics dan Lockheed Martin Human Universal Load Carrier (HULC) exoskeletons adalah contoh dari inovasi yang menyerupai kekuatan Super hero Hulk. HULC, melalui kaki titanium nya, mengubah otot pemakainya menjadi kuat di atas normal. Kaki titanium dipasang ke bingkai backpacklike dengan seperangkat unit yang memberikan tenaga melalui mikrokomputer on-board kecil. Salah satu fitur HULC paling mengesankan adalah ia tidak memerlukan joystick atau mekanisme kontrol manual seperti remote control atau tombol-tombol pengontrol.
Perangkat ini dapat merasakan gerakan yang dimaksudkan operator, dan bereaksi sesuai keinginan, layakanya fungsi saraf yang menerima perintah dari otot-otot yang ingin bergerak. 4. Kemampuan cara menurunkan laju peluru seperti Neo, The Matrix
Bionic Body Armor, memang kemunculannya pada awal 2009. Namun bukan berarti saat ini tidak perlu pengembangan. Fungsinya untuk memberikan stimuliasi / reflek kejut kepada pemakainya yang pada waktu yang sama akan menyebabkan gerakan refleksif pemakainya dalam arah yang berlawanan dari sebuah laju proyektil yang mengancam. Hebatnya, Smart armor inisedang dikembangkan dalam bentuk cairan pelindung tubuh. Satu versi menggunakan cairan magnetorheological (MFS), yang menebal bila terkena medan magnet, dan lainnya menggunakan cairan geser-penebalan (STFs), yang mengeras bila ada stimulasi atau disambar paksa oleh suatu objek yang mengancam pemakainya. Hebat bukan? 5. Kemampuan Memanipulasi Cuaca ala Storm (X-Men)
Bila Anda pernah mendengar Proyek besar yang bernama HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program)< yang merupakan proyek yang dicurigai dalam mengembangkan sebuah senjata pamungkas berdasarkan konsep-konsep "mesin gempa bumi" Nikola Tesla. Bahkan menurut sebagian kalangan, proyek ini bertanggung jawab terhadap beberapa kejadian gempa besar, seperti gempa bumi 7,8 skala Richter (SR) di Sichuan China 12 Mei 2008, gempa bumi 7,0 SR di Haiti 12 Januari 2010, dan gempa bumi 8,8 SR di Chile 27 Februari 2010. Dalam beritanya disebutkan bahwa pemimpin Venezuela itu menuduh AS menyebabkan kehancuran di Haiti dengan menguji coba "senjata tektonik". Media massa Venezuela pun melaporkan bahwa gempa bumi ini mungkin terkait dengan proyek yang disebut HAARP ini, sebuah sistem yang dapat menghasilkan perubahan iklim yang tak terduga dan keras.
Seniman Jepang Kogoro Kurata telah meluncurkan prototipe robot setinggi 4 meter dan berat 4500 kg yang diberi nama Kuratas, yang dilengkapi dengan "sistem senjata" dan dapat dikendarai.
Kuratas dikendalikan melalui sistem perangkat lunak yang disebut V-Sido. Selain dikendalikan oleh manusia di dasbor kokpit, robot ini juga memungkinkan untuk dikendalikan dengan smartphone (melalui jaringan 3G), atau menggunakan sistem master-slave yang memungkinkan Kuratas meniru gerakan oleh pengguna dari remote position. Dari kokpit, kolom kemudi digunakan untuk mengarahkan robot, juga untuk menggerakan lengan robot dengan memanipulasi gerakan seperti yang digunakan pada Kontrol Kinect.
Meskipun Kuratas memiliki kaki, namun menggunakan roda bukannya kaki. Roda ini dapat didorong dalam konfigurasi dan tinggi rendahnya dapat diatur. Kuratas dapat melaju dengan kecepatan sekitar 10 km / h (6 mph).
Tentu saja, tidak ada mekanisme lengkap tanpa persenjataan yang memadai, dan Kuratas tidak mengecewakan. Robot ini dilengkapi peluncur rudal dan dua senjata Gatling yang dapat menembakkan 6000 peluru per menit, dan Kuratas bisa auto-target saat membidik sasaran.
Kogoro Kurata menunjukkan bahwa ini adalah sebuah karya seni ketimbang kendaraan, dan tidak dirancang untuk keamanan. Meskipun demikian, baik video promo dan websitenya menunjukkan bahwa Kuratas akan tersedia untuk di jual dengan harga US $ 1.523.500, atau sekitar 11 milyar rupiah melalui pemesanan online.
The VLB 300 MiniROV from Seabotix is employed by divers to scan vessels, protecting from leaech mines and underwater IEDs. All Photos: Noam Eshel, Defense-Update
The ISDEF 2013 exhibition opened yesterday in Tel Aviv is the largest, most impressive defense expo taking place in Israel in recent years. Over 100 exhibitors gathered here, with thousands of visitors attracted by many professional seminars and demonstrations of assault means, weapon systems and CBRNE protective measures. In this brief coverage we highlight Unmanned `systems & Robotics. Two additional reports cover other themes including: Land Vehicles and C4ISR and Small Arms.
Orbiter 3 tactical UAV from Aeronautics, was presented here with a mockup of S-STAMP multi-sensor EO payload, developed by Controp Precision Systems.
ISDEF provided an insight into several new unmanned vehicles and payloads designed for new missions. Familiar faces were the Orbiter 3 tactical UAV from Aeronautics, making the Israeli debut of the system. The Orbiter was presented here with the S-STAMP multi-sensor EO payload, developed by Controp Precision Systems.
Innocon unveiled the Spider, a 3.5 kg micro-drone designed with a 1.75 meter span upper wing. According to the manufacturer, the Spider combined with one of three gimbaled, stabilized EO payloads, distinguish small detail such as a car license plate number.
Unmanned systems developed Innocon unveiled the Spider, a 3.5 kg micro-drone designed with a 1.75 meter span upper wing. According to the manufacturer, the Spider combined with one of three gimbaled, stabilized EO payloads, distinguish small detail such as a car license plate number.
Another new payload coming from the Netherlands is the Acoustic Multi-Mission Sensor (AMMS) a patented Acoustic Vector Sensor developed by Microflown-Avisa. At a weigh of 70 grams the sensor can be mounted on the tip of a UAV, detecting gunshots, RPG firing or rocket launches from an altitude of about couple of hundred meters and at tactically effective range. The company is already delivering 3 Acoustic Multi-Mission Sensor systems (AMMS) equipping Dutch military units and is also in the process of adapting the system into vehicular sensors.
An integration of Acoustic Vector Sensor on an Unmanned Aerial Vehicle will son begin in India, under cooperation between Microflown-Avisa and an Indian military research agency.
This configuration will provide a low-profile sensor, offering many advantages compared with existing high-profile acoustic sensors. Another development, currently at the early stage with the an Indian research agency, will integrate the AVS into mini UAVs.
In earlier posts we have also covered the AMSTAF robot. Here at ISDEF the robot is displayed geared for CBRNE evacuation mission.
Seabotix, a MiniROV system developer with a pedigree of underwater expertise displayed here a range of MiniROVs used to scan vessels, protecting from leaech mines and underwater IEDs. The company displayed here the LBC and LBV variants, equipped with multiple thrusters and vortex attraction, enabling the bot to fly at a distance, operating a powerful high resolution sonar, or crawl on the vessel’s hull using the vortex attraction system, when taking closer inspection of the surface. The robot can be controlled via tether from above water or directly assist divers under water. The systems are already operational with the US, Canadian, Swedish and Russian navies.
Stay tuned for more VideoReports from ISDEF in the coming days!
MiniROVs like this LBV300 The robot can be controlled via tether from above water or directly assist divers under water.
Robot humanoid milik NASA, yang menandai perjalanan luar angkasa pertamanya bersama misi terakhir pesawat ulang alik Discovery Sabtu silam, dilaporkan telah gagal menjalani misinya berjalan di stasiun ruang angkasa atau international space station (ISS).
Dua astronot NASA, Steve Bowen dan Alvin Drew, baru saja menyudahkan misi ruang angkasanya pada hari Senin ketika robot humanoid itu berhenti bekerja sesampainya di pesawat kubah 7 jendela.
Padahal, astronom membawanya untuk membantu mereka menginstal ekstensi ke pusat listrik (power cable). Para astronot juga memerlukan bantuannya ketika memindahkan modul pompa seberat 800 pound (setara 362 kilogram) untuk sebuah platform eksternal di mana ia akan "menumpang" untuk kembali ke Bumi pada misi selanjutnya. Namun, kedua misi itu gagal dilakukan.
Bowen dan Drew, yang telah menjalani misi ke-200 sebagai astronot, juga dijadwalkan untuk menginstal kamera di rangka eksternal dan membubuhkan dua ekstensi ke trek sepanjang rangka. Namun, misi ini belum diselesaikan.
Pesawat ulang alik milik NASA, Discovery, telah tiba di ISS atau stasiun ruang angkasa, Sabtu 26 Februari 2011. Ini merupakan kali terakhir pesawat berawak itu mengangkut manusia ke luar angkasa sejak Agustus tahun 1984.
Discovery membawa enam awak astronot dalam misi terakhirnya. Dipimpin oleh Steve Lindsay, pesawat yang telah menjalankan 38 misi itu mengangkut pilot Eric Boe, Alvin Drew, Michael Barratt, Nicole Stott, dan Steve Bowen.
Mereka membawa robot yang menyerupai fisik manusia. Bernama Robonaut R2, ia dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Nantinya, ia akan melakukan pekerjaan-pekerajaan yang berisiko tinggi bagi manusia, terutama berjalan di luar angkasa.
Mencengangkan melihat inovasi teknologi yang ada pada SmartBird yang merupakan burung robot yang bisa terbang dengan gerakan hampir persis burung aslinya dan model burung ini memiliki kualitas aerodinamis yang sangat baik dan kelincahan ekstrem seperti burung yang normal. Dengan SmartBird, Festo si pembuatnya telah berhasil dalam menguraikan kemampuan penerbangan burung ke dalam teknologi yang bisa kita manfaatkan.
Robot burung ini membawa Teknologi bionik, yang terinspirasi oleh camar ikan haring, yang dapat memulai terbang dari tanah mandiri – tanpa mekanisme drive tambahan.
Sayapnya tidak hanya bergerak ke atas dan ke bawah, tetapi juga berputar pada sudut tertentu. Hal ini dimungkinkan oleh unit drive aktif diartikulasikan torsional, yang dalam kombinasi dengan sistem kontrol yang kompleks mencapai tingkat efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam operasi penerbangan. Festo telah demikian berhasil untuk pertama kalinya dalam menciptakan sebuah adaptasi teknis energi efisien model dari alam.
Robot ini memiliki bahan material carbon fiber dan elektronik kontrol dengan berat hanya 0.4 kilogram saja. Festo telah mendemonstrasikan teknologi yang menggambarkan seberapa canggih robot bisa terbang: SmartBird aerodinamis sangat efisien, bahkan memutar kepalanya seperti burung camar nyata lakukan untuk melakukan gerakan aerobatik.
Tetapi jika Anda berpikir tentang implikasi yang lebih besar dari Robot ini, kemungkinannya cukup mencengangkan: Bayangkan sebuah pesawat robot mata-mata berbasis pada teknologi ini, dikemas dengan sistem GPS yang ultra-ringan, baterai yang kuat dan kamera presisi tinggi dan mikrofon. Jenis data surveilans rahasia yang bisa dikumpulkan burung robot ini tentu akan mengesankan – dan lebih bergaya dari setiap perangkat drone mata-mata lain di luar sana.
Robot SmartBird ini menggunakan komunikasi radio Zigbee yang menyampaikan informasi penerbangan ke komputer yang mentrak, meningkatkan pergerakaannya.
Anda bisa mengunjungi situs Festo pembuat robot ini di:
http://www.festo.com/cms/en_corp/11369.htm
video burung robot beraksi:
Dalam dunia militer, ada berbagai macam robot-robot perang (Drones) yang diklasifikasikan menurut tempat dioperasikannya. UAV (Unmanned Aerial Vehicle), UCAV (Unmanned Combat Air Vehicle) dan Target Drones merupakan drones yang digunakan di udara. UGV(Unmanned Ground Vehicle) adalah drones darat dan ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) adalah drones yang dioperasikan di laut.
Tujuan utama dari penggunaan Drones ini sederhana, yaitu untuk bisa meminimalisir penggunaan dan kehilangan sumber daya manusia karena drones jarang menggunakan operator manusia. Maksudnya drones tidak memiliki operator yang langsung berada dalam robot tersebut melainkan menggunakan operator secara remot.
Tapi tiap hal tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dalam penggunaan drones ini. Kelebihan menggunakan drones tentu saja meminimalisir korban sumber daya manusia dalam menjalankan tugas yang berbahaya. Kekurangan dari penggunaan drones, keakuratannya yang masih dipertanyakan. Manusia dapat melakukan kontak visual untuk membedakan mana lawan, sipil dan kawan. Ketiga aspek ini yang tidak dimiliki oleh drones yang dikendalikan secara jarak jauh sehingga sering mengakibatkan terjadinya salah tembak.
Amerika Serikat menggunakan UAV dalam Operation Enduring Freedom di Afghanistan dan Iraqi Freedom pada Perang Iraq. Pada 2006, misil yang diluncurkan drones sendiri telah membunuh 750 sampai 1000 di Pakistan. Secara keseluruhan 66% - 68% orang yang terbunuh adalah militan dan sisanya dari sipil. Ini menunjukkan masih banyaknya korban sipil akibat dari kekurang akuratan dari penggunaan drones. Pada 2010 di Afghanistan,10 orang sipil terbunuh setelah operator dari drones tersebut salah menembak konvoi yang terdiri dari tiga mobil. Operator drones mengira konvoi tersebut adalah konvoi musuh.